Selasa 31 Oktober 2017, 23:01 WIB

Misteri Sindrom Putri Tidur

Denny Susanto denny.susanto@mediaindonesia.com | Humaniora
Misteri Sindrom Putri Tidur

thinkstock

 

MULYADI cemas ketika mendapati putrinya, Siti Raisa Miranda, 13, yang masih duduk di bangku kelas 1 SMPN 15 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tidur hingga berhari-hari. Ini kali ketiga Raisa tidur panjang hingga berhari-hari. Namun, kali ini kondisinya paling parah bila dibandingkan dengan dua peristiwa sebelumnya lantaran remaja yang akrab disapa Echa itu tidur sejak 10 hingga 22 Oktober. Sebelumnya, ia tidur tidak selama itu. Meskipun Echa tidur panjang, kedua orangtuanya tetap memaksanya makan dan minum karena Echa masih bisa makan dan minum, bahkan pergi ke kamar kecil sambil terkantuk-kantuk. Namun, karena Mulyadi khawatir, warga Kelurahan Kuin Selatan, Kota Banjarmasin, itu akhirnya membawa 'si Putri Tidur' ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ansari Saleh.
"Kami sekeluarga sangat khawatir sehingga akhirnya kami membawanya ke rumah sakit," kata Mulyadi, Selasa (31/10.

Ia juga mengungkapkan putrinya tidur tanpa henti setelah mengalami kecelakaan sepeda motor beberapa waktu lalu. Dokter yang menanganinya menyatakan Echa tidak mengalami luka dalam parah akibat kecelakaan itu meski ia harus dirawat di RS beberapa hari.
Sejak pertama kali mengalami tidur panjang, ia melakukan berbagai upaya agar Echa normal kembali, melalui pengobatan medis maupun pengobatan alternatif. "Ternyata kami harus bersabar. Kami berharap anak kami cepat kembali sembuh seperti sedia kala," harapnya.
Kini sudah sepekan Echa terjaga dari tidur panjangnya. Namun, ia masih lemah dan hanya terbaring di ranjang RS. Sesekali ia menggunakan telepon selulernya.

Sementara itu, tim dokter yang merawat Echa di RSUD Ansari Saleh hingga kini belum mengetahui penyebab kasus itu. Tim dokter yang menangani kasus oversleeping itu di antaranya dokter ahli saraf, dokter kesehatan jiwa, dan dokter anak.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Ansari Saleh Yuyun Sukaesi menjelaskan, hingga kini belum diketahui penyebab penyakit tersebut. Pihaknya masih terus mengobservasi. "Perkembangan kondisi Echa masih positif. Setelah diperiksa melalui alat untuk gelombang tidur, yang dialami Echa terlihat normal. Artinya dia sedang tidak dalam kondisi tidur. Secara medis dia dikatakan sadar karena masih makan dan bisa diajak bicara," kata Yuyun.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Muslim mengatakan selama dirawat di RSUD Ansari Saleh, Echa mendapat penanganan intensif dari tim dokter dan mendapat pelayanan terbaik. Echa menjalani beberapa pemeriksaan, di antaranya pemeriksaan mastektomi radikal modifikasi (MRM) untuk mengetahui kemungkinan adanya pendarahan di kepala, pemeriksaan untuk melihat pola gelombang tidur, dan polisitemia vera (PV) untuk mengetahui batang otaknya.

Gejala hipersomnia
Terkait dengan kondisi Icha, dr Andreas Prasadja RPSGT dari Snoring and Sleep Disorder Clinic Pondok Indah menduga Echa mengalami Kleine-Levin syndrome atau dikenal dengan istilah sindrom putri tidur. Penderitanya tidak dapat mengontrol rasa kantuk yang berlebihan. Ia menjelaskan gejala yang dialami Icha hampir dapat dipastikan merupakan hipersomnia. Namun, harus ada pemeriksaan yang lebih komprehensif yang melibatkan tim dokter, mulai dokter spesialis hingga psikiatri. Banyak penyakit lain yang juga ditandai dengan hipersomnia, bukan hanya Kleine-Levin syndrome.

Hipersomnia, ujarnya, merupakan kelainan tidur yang ditandai dengan rasa kantuk berlebihan. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Andreas menuturkan banyak penyakit tidur menyangkut hipersomnia. Namun, kesadaran masyarakat tentang hal itu masih kurang dan banyak yang mengabaikannya. "Masyarakat masih memandang bahwa tidur itu suatu kemalasan. Mengantuk itu malas. Padahal, tidur merupakan kebutuhan biologis," tutur dokter yang biasa disapa Ade itu ketika dihubungi, kemarin. Ade lebih lanjut memaparkan ada beberapa penyakit yang menyebabkan gejala hipersomnia, dari yang berat hingga ringan. Pertama, kantuk berlebihan di siang hari karena waktu tidur yang kurang yang disebabkan banyak hal. "Akibatnya, kantuk pada siang hari mengganggu produktivitas," imbuhnya.
Kedua, menggerak-gerakkan kaki pada saat tidur secara periodik setiap beberapa detik. Hal itu mengganggu kualitas tidur. Ketiga, sleep apnea atau berhenti bernapas seketika saat tidur atau ketika mendengkur yang banyak diderita orang. Akibatnya bisa berpengaruh langsung pada kesehatan jantung. "Bisa serangan jantung, kematian mendadak, dan lainnya."

Keempat ialah Kleine-Levin syndrome yang merupakan gangguan tidur narkolepsi. Narkolepsi, terang Ade, merupakan gangguan tidur yang relatif langka serta ditandai dengan rasa kantuk sepanjang waktu. Dampaknya, penderitanya dapat mengalami sleep attack atau serangan tidur. Serangan biasanya terjadi selama beberapa episode. "Setiap episode serangannya bisa terjadi sekitar satu minggu, dua minggu, dan yang dilaporkan paling lama penderita tertidur selama satu bulan. Kalau sudah berlalu, pasien akan tampak normal," kata dia.

Ade juga menyampaikan, menurut literatur, penyakit ini lebih banyak diderita laki-laki daripada perempuan dan umumnya muncul pada usia remaja. Hingga kini penyebabnya belum diketahui. Namun, diyakini, ada gangguan pada talamus, bagian pada otak yang salah satu fungsinya mengatur waktu tidur, makan, serta aktivitas seksual. (Ind/H-2)

Baca Juga

ANTARA/Dhemas Reviyanto

Indonesia Kedatangan 10 juta Bulk Vaksin Sinovac

👤Humaniora 🕔Minggu 20 Juni 2021, 14:33 WIB
Hingga hari ini, terdapat 91 juta bulk  vaksin yang sudah sampai di Indonesia untuk diproduksi menjadi vaksin...
Antara

Lockdown Bisa Mempercepat Pemulihan Ekonomi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 20 Juni 2021, 13:55 WIB
Selain itu, lockdown juga bisa menurunkan angka kematian akibat covid karena membatasi secara maksimal...
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

BMKG: Gelombang Tinggi Masih Mengancam Perairan Indonesia

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 20 Juni 2021, 11:31 WIB
BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan Indonesia pada 20 - 21 Juni...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Perlindungan Ganda terhadap Virus Korona dan Flu

DALAM perlombaan vaksin, perusahaan AS Novavax terlambat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya