Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
STROKE menjadi ancaman serius pembangunan di bidang kesehatan. Penyakit tersebut menurunkan kualitas hidup penderitanya dan menimbulkan beban sosial ekonomi yang cukup besar. Tahun lalu, biaya yang harus dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk pengobatan stroke mencapai Rp1,2 triliun.
"Oleh karena itu, dalam peringatan Hari Stroke Sedunia 29 Oktober yang mengangkat tema What's your reason for preventing stroke?, Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat agar lebih peduli dan waspada terhadap stroke dengan perilaku hidup sehat dan mengenali gejalanya," ujar Direktur Pencegahan Peyakit tidak Menular Kementerian Kesehatan Lily Sulistyowati, di Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan prevalensi penderita stroke terus meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan ada kenaikan dari 8,3 per 1.000 orang (2007) menjadi 12,1 per seribu orang (2013).
Pada kesempatan sama, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Moh Hasan Machfoed mengingatkan masyarakat untuk jangan mengabaikan serangan stroke sesaat alias transient ischemic attack (TIA). Sebab, meski serangan itu hanya sesaat dan penderita bisa pulih kembali, di masa depan ada potensi terulangnya serangan stroke dengan skala yang lebih parah.
Stroke sesaat mempunyai gejala serupa dengan stroke, antara lain senyum tidak simetris, gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba, bicara pelo atau tiba-tiba tidak dapat bicara, kebas atau baal separuh tubuh, rabun, sakit kepala hebat, gangguan fungsi keseimbangan seperti terasa berputar, dan gerakan sulit dikoordinasi.
"Umumnya, dalam 30 menit hingga 2 jam kemudian pasien kembali normal. Meski begitu, jangan diremehkan, segera ke dokter."
Ketua Perdossi Jaya Provinsi DKI Jakarta Taufik Mesiano menyampaikan yang terpenting dalam penanganan stroke ialah kecepatan waktu. Semakin lama pasien tertunda ke rumah sakit, semakin banyak sel-sel otak yang akan rusak. "Satu detik terlambat, ada 32 ribu sel saraf yang hilang dan 230 juta sinaps (jaringan penghubungan antarsel otak) yang rusak," kata dia.
Pencegahan stroke, lanjutnya, dilakukan dengan cek kesehatan rutin, rajin beraktivitas fisik, manajemen stres, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan tidak merokok. "Untuk pasien diabetes, kendalikan kadar gula darah. Demikian juga pasien hipertensi, kendalikan tekanan darah.
"Penyebab terbanyak stroke berkolerasi dengan hipertensi."(Ind/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved