Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
RANSOMWARE varian baru bernama Bad Rabbit kini tengah menyerang wilayah timur Eropa dan beberapa negara di kawasan Benua Biru lainnya.
Ransomware teranyar itu menyebar melalui pembaruan perangkat lunak Adobe Flash palsu. Penyerang melakukan trik dengan memunculkan permintaan pembaruan. Setelah diklik, komputer akan terinfeksi Bad Rabbit dan data-data pengguna akan terenkripsi.
Lebih parahnya lagi, kemudian pengguna akan dialihkan pada sebuah situs yang berisi permintaan tebusan senilai 0,05 bitcoin atau setara Rp3,7 juta untuk dapat membuka kembali data-data yang telah terserang.
Kendati dianggap tidak seberbahaya WannaCry yang pernah mewabah beberapa bulan lalu, masyarakat dunia tetap diminta untuk waspada terhadap serangan Ransomware kali ini.
Managing Director ASEAN & Korea Sophos, perusahaan keamanan jaringan dan endpoint, Sumit Bansal mengatakan saat ini kejahatan siber itu memang baru menyerang beberapa negara di Eropa, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat menyebar ke Asia bahkan Indonesia.
Maraknya serangan ransomware dalam setahun terakhir tidak terlepas dari potensi yang bisa didapatkan dari hasil kejahatan tersebut. Ransomware kini menjadi ancaman terbesar karena berkontribusi 42% dari seluruh kejahatan siber yang terjadi di seluruh dunia.
“Kenapa ransomware bisa begitu besar? Karena dari aksi ini, pemyerang bisa mendapatkan setidaknya US$394 ribu per bulan. Uang yang membuatnya begitu populer,” terang Bansal di Jakarta, Rabu (25/10).
Kendati demikian, ia mengatakan pemerintah, perusahaan dan masyarakat tidak perlu khawatir jika telah memiliki sistem keamanan jaringan yang baik sehingga dapat mencegah serangan-serangan yang datang.
“Kami melihat keamanan siber di Indonesia sudah cukup baik. Kami juga telah bekerja sama dengan beberapa instansi mulai dari pemerintahan dan juga swasta, khususnya perusahaan yang bergerak di sektor keuangan. Namun masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan level keamanan agar ancaman-ancaman bisa teratasi dengan baik,” tuturnya.
Pria asal Singapura itu mengatakan salah satu yang masih menjadi kelemahan di Indonesia ialah regulasi. Di negara asalnya, pemerintah mewajibkan seluruh perusahaan memiliki sistem keamanan data. Tujuannya jelas untuk melindungi masyarakat serta konsumen. Hal tersebut juga diterapkan di negara-negara maju Eropa.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved