Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Jurnalisme Agama Harus Jadi Bagian Solusi, Bukan Masalah

Thomas Harming Suwarta
17/10/2017 21:05
Jurnalisme Agama Harus Jadi Bagian Solusi, Bukan Masalah
(thinkstock)
DI TENGAH sensitivitas isu-isu terkait agama di masyarakat, dunia jurnalisme agama diharapkan mampu memberi solusi pada banyak persoalan kehidupan beragama di masyarakat daripada malah menjadi bagian dari masalah. Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan platform media massa yang sedemikian cepat saat ini memperlihatkan justru pemberitaan media cenderung makin memperkeruh suasana.

“Nah kita tidak ingin situasi seperti ini terjadi sehingga payung besar yang harus didorong terkait jurnalisme agama ialah mencari solusi daripada menjadi bagian masalah,” kata Ninok Leksono Rektor Universitas Multi Media Nusantara yang menjadi tuan rumah penyelenggaraaan Konferensi Jurnalisme Agama di Kampus UMN, Tangerang Selatan, Selasa (17/10).

Lebih dari itu menurut dia sebagai bagian mencari solusi , jurnalisme agama harus mampu menjadi sarana yang menyajikan nilai-nilai postif hidup beragama. “Pada level praktis jurnalisme agama harus mampu mentransfer pemahaman yang baik pada masyarakat terkait agama, bukan sebaliknya hal-hal yang justru bertolak belakang dengan nilai gama itu sendiri,” kata mantan jurnalis senior Harian Kompas ini.

Selain memberi pemahaman yang positif, jurnalisme agama menurut dia harus mampu mendorong terciptanya kerukunan dalam kehidupan beragama. Sebagai prinsip jurnalistik, kata dia setiap peliputan isu-isu agama harus diletakkan pada konteksnya. “Itu yang penting jangan sampai pemberitaan ke mana-mana, harus diletakkan pada konteks yang tepat dalam hal ini konteks kerukunan tadi, konteks perdamaian,” tukas Ninok.

Terkait konferensi jurnalisme agama yang menghadirkan jurnalis dari menghadiri ada Asia tersebut kata dia menjadi kesempatan berbagi pengalaman untuk saling memperkaya. “Di negara-mengar lain kan agama ini juga jadi soal yang penting. Bagaimana kita belajar tentang hubungan mayoritas dan minoritas di suatu negara dan hal-hal lain sehingga gambaran tentang jurnalisme agama menajdi makin jelas,” paparnya.

Secara khusus untuk konteks Indonesia kata dia agama sudah menjadi komoditas politik, sebagaimana tampak nyata dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta beberpa waktu lalu. Dan akibat itu, masyarakat terbelah bahkan dikuatirkan akan makin parah menjelang pilpres dan Pileg 2019 mendatang. "Kita sangat berharap agar apa yang sudah terjadi di Jakarta cukup jadi pelajaran yang amat berharga, supaya apa yang muncul ke permukaan bukan lagi politisasi agama tetapi benar benar maslah bangsa,” ucapnya.

Hadir dalam kesempatan ini adalah Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya Konferensi Jurnalisme Agama ini. Ia berharap agar wadah seperti ini makin memperkuat komitmen media utuk benar-benar menjadi garda terdepan yang mbweikan penyadaran pada masyarakat nilai-nilai kehidupan bersama secara damai, harmonisasi antar umat beragama.

“Karena persoalan kehidupan beragama bukan saja menyangkut kebijakan tetapi sial minset atau pola pikir. Nah peran media saya ras sangat penting di situ yaitu bagaimana masyarakat memiliki pola pikir yang benar,” kata Retno.

Isu dialog antar agama bagi pemerintah indonesia kata dia merupakan suatu bentuk diplomasi penting bagi pemerintah saat ini. Dalam berbagai forum regional maupun internasional kata dia isu agama ini selalu muncul dan indonesia menajdi rujukan khusus karena negara dengan penduduk mualim terbesar di dunia.

“Kita mayoritas muslim tetapi juga beragam dan diikat oleh suatu nilai bersama pancasila. Ini yang harus kita agungkan terus,” kata Retno hang mengaku memiliki kerja sama bilateral terkait agama dengan 28 negara tersebut.

Ditambahkan oleh Citra Dyah Prastuti dari KBR 68H sebagai salah satu narasumber konferensi bahwa seorang jurnalis harus dapat menjelaskan tentang duduk perkara secara jelas dan terang karena tidak jarang masyarakat memberi stigma pada kelompok-kelompok agama tertentu tanpa mengetahui secara mendalam. "Itulah pentingnya media memiliki perspektif yang mencerahkan bukan cenderung menghakimi dengan stigma soal kelompok kelompok tertentu tanpa mencari tahu lebih dalam,” ungkap Citra. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya