Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Langkah Awal Merehabilitasi Satwa Langka

Denny Parsaulian Sinaga
07/10/2017 16:32
Langkah Awal Merehabilitasi Satwa Langka
(ANTARA/SEPTIANDA PERDANA)

MENGHADIRKAN enam orangutan (Pongo pygmaeus) di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Samboja, KM 6 Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, memiliki tujuan khusus.

Kehadiran mereka akan dijadikan pembelajaran dan pilot project bagaimana melakukan rehabilitasi hewan dilindungi untuk kembali ke alam dengan melatih mereka daya tahan agar survive (bertahan hidup).

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Henry Bustaman dalam kunjungan kerjanya ke Pusat Penelitian Orangutan di KHDTK Samboja.

''Pusat penelitian orangutan yang berfungsi sebagai pusat rehabilitasi dan reintroduksi hewan yang dilindungi ini, bisa digunakan oleh pihak yang berkompeten sebelum mengembalikan hewan dilindungi ke alam secara benar,'' ujar Henry kepada Media Indonesia di Kantor Balitek KSDA Samboja, Kamis (5/10).

Saat itu Henri didampingi Sekretaris BLI KLHK Sylvana Ratina, Kapuslithutan BLI KLHK Kirsfianti L Ginoga, Kepala BKSDA Kaltim Sunandar Trigunajasa, Pembina Yayasan Jejak Pulang Signa Preuschoft, para peneliti, perwakilan dari Pilsek Samboja.

Pusat Penelitian Orangutan di KHDTK Samboja memiliki tiga kegiatan utama yaitu penelitian rehabilitasi, reintroduksi orangutan, serta edukasi.

Saat ini di pusat penelitian orangutan ada 6 ekor orangutan dengan latar belakang berbeda. Mereka adalah Robin, 8, Amalia, 6, Eska, 4, Tegar, 1, Cantik, 3, dan Gonda, 8 bulan. Untuk membantu merehabilitasi orangutan ini yaitu trial and error serta dengan bantuan manusia (pengasuh).

Berbeda dengan empat orangutan, Tegar dan Gonda, saat ini sedang diasuh pengasuh di Sekolah Hutan di Pusat Penelitian Orangutan di KHDTK Samboja. Empat orangutan lainnya sedang dikarantina karena terlalu lama dirawat manusia.

''Terutama Robin. Dia sejak usia empat tahun sudah dipelihara manusia. Hidupnya sudah seperti manusia. Ikut makan nasi, mi instan, minum kopi, dan lain-lain. Jadi dia sedang dikarantina dengan harapan 'melupakan' manusia,'' kata Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja Achmad Gadang Pamungkas, Kamis (5/10).

Enam orangutan ini diserahkan warga kepada Balitek. Robin, 8, adalah orangutan pertama yang diserahkan warga yaitu pada April 2017. Dan Tegar yang terakhir sekitar Juli 2017.

Gonda dan Tegar diharapkan bisa segera dilepas ke alam saat berusia 5 atau 6 tahun. Tetapi inipun masih membutuhkan evaluasi. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya