Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
ADALAH kisah tentang 10 anak penghuni rumah susun. Berasal dari beragam latar belakang, dipersatukan oleh manisnya persahabatan. Mereka sama-sama menyukai gulali yang dijajakan seorang veteran bernama Kakek Gulali. Gulali itu mereka percaya sebagai jimat keberuntungan mereka.
Suatu waktu, Kakek Gulali harus pergi ke Sulawesi. Munil, Saroh, Asep, Glenn, Abi, Judika, Keke, Upi, Pinkan dan Ilham pun merasa kehilangan. Bagi mereka, tanpa Kakek Gulali, lantas keberuntungan pun hilang.
Agar tetap beruntung dan ceria, mereka membuat Piala Gulali. Apalagi Asep, Glenn, Abi, dan Judika akan menghadapi pertandingan sepakbola melawan Tim Macan.
Namun, menjelang hari pertandingan tiba, piala gulali tersebut dicuri. Mereka sempat ingin mundur. Sebab, menurut mereka, dari mana lagi keberuntungan itu akan tiba bila bukan dari gulali?
Munil, sosok paling belia di antara mereka pun tidak rela kakak-kakak satu rusunnya mundur begitu saja. Ia meminta mereka tetap bertanding. Lagipula, mereka telah berjanji akan membelikan Munil sebuah boneka yang amat ia idamkan bila berhasil memenangkan pertandingan.
"Kakak kan sudah janji mau beliin Munil boneka," katanya dengan polos.
Alhasil pertandingan tetap digelar dan mereka berhasil menang meski tanpa gulali. Kakek Gulali pun kembali. Mereka lantas mempertanyakan, bagaimana bisa mereka menang tanpa gulali?
Ternyata selama ini mereka salah mengira. Bukanlah manisnya gulali yang menjadi sumber keceriaan dan keberuntungan mereka selama ini, melainkan persahabatan yang terjalin meski mereka beragam suku.
Demikian kisah yang ditampilkan dalam operet berjudul 'Ada Gulali di Hatiku' di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (21/9).
Selang-seling di tengah kisah, penampilan tari-tarian nusantara memberi warna. Artis cilik Naura turut tampil, membawakan lagi Bungong Jeumpa dengan konsep Broadway ala New York.
Sepanjang pertunjukan, beragam musik daerah dan tembang anak-anak dimainkan oleh kolaborasi dari Sekolah Musik Gloriamus, Soundkestra, dan Taman Suropati Chambers. Mulai dari lagu Rasa Sayange, Ondel-Ondel, Gundul Pacul, hingga Yamko Rambe Yamko.
Penonton sempat terbahak ketika sekelompok pengamen mendatangi area pasar. Alunan musik berirama dangdut mengiringi aksi ngamen mereka. Tak disangka, mereka memainkan lagu Pelangi, diiringi goyang pinggul dan jempol.
Karya yang digagas oleh Veronica Basuki Tjahaja Purnama dan Happy Djarot Saiful Hidayat ini melibatkan penampilan Komunitas Paduan Suara 'Aku Anak Rusun'.
Ada 141 anak-anak penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dari Rusun Tipar Cakung, Rusun Pulogebang, Rusun Albo Cakung Barat, Rusun Tambora, serta Rusun Marunda yang terlibat. Melalui drama musikal ini pula, pesan kebhinekaan disampaikan.
"Saya yakin ini adalah spirit kita bersama semua mau Indonesia tetap bersatu dengan keragaman yang ada, dan menampilkan anak-anak tidak tergantung pada status mereka. Yang penting ada wadah, ada hati, ada yang mau mendidik," tutur Veronica.
Ke depannya, pengembangan bakat dari anak-anak penghuni rusunawa diharapkan bisa terus berlanjut. "Ini memberi kepercayaan diri bagi mereka, anak-anak rusun, bahwa siapa pun boleh berprestasi, siapa pun boleh meraih mimpi," tambah Happy. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved