Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
BIBIT lele diberikan, pelatihan diberikan sekali saja, namun kemudian petani yang telah bertekad sepenuh hati menjadi peternak, dibiarkan berjibaku tanpa pendampingan optimal dan dipastikan keberlangsungan usahanya.
Kisah tentang program pertanggungjawaban sosial yang dilakukan dengan perencanaan dan aksi yang kurang optimal itu dipaparkan Maria R Nindita Radyati, Executive Director of Center for entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) serta pendiri Magister Manajemen Corporate Social Responsibility (MM-CSR) Trisakti dalam Kuliah Umum Program Studi Magister Manajemen (MM), Pascasarjana Universitas Trisakti di Jakarta, Jumat (15/9).
"CSR ini menjadi program yang diamanatkan UU Perseroan Terbatas, dan menjadi bagian dari isu bisnis sehari-hari, namun kesalahan-kesalahan yang terjadi di lapangan, masih terus terjadi," ujar Maria didepan sedikitnya 200 mahasiswa MM Trisakti.
Selain isu sustainability atau program yang berkesinambungan, yang bersumber dari internal perusahaan, Maria juga menyoroti, pandangan regulator, dalam hal ini pemerintah terhadap program CSR.
"Dalam riset yang kami lakukan terhadap perda-perda yang diterbitkan, terkait CSR, dari 100 perda yang kami teliti, ada 16 perda yang secara tegas menyebutkan kontribusi CSR yang dipotong langsung dari keuntungan net sebanyak 6%, bayangkan itu jumlah berapa," kata Maria.
Kesalahpahaman yang sama, kata Maria, juga mencuat di kalangan masyarakat yang menganggap bahwa interaksi dengan perusahaan yang berada di sekitarnya, diwakili proposal dan dana yang dikucurkan. "Ketika proposal tidak tembus, pada beberapa kasus, jalan ditutup," ujar Maria yang bersama timnya telah melakukan riset dan konsultasi program CSR untuk berbagai institusi.
Berkelanjutan
"Jika kembali pada ISO 26000 yang mengatur tentang CSR, ini adalah tanggung jawab organisasi atas dampak keputusan dan aktivitas terhadap masyarakat dan lingkungan hidup dengan cara transparan dan beretika, berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan," kata Maria.
Sehingga, pada kasus peternak lele yang diawal merasa senang ketika dibantu bibit-bibit lele dan berbalik antipati karena meras dibiarkan, dan di saat yang sama, perusahaan menganggap masyarakat harus mandiri, terjadi kesalahan pada proses pemetaan dan perencanaan program. Aspek keberlanjutan diabaikan, pun pemetaan terhadap kebutuhan masyarakat lokal.
Sementara, pada aspek, pemerintah daerah yang bersemangat sekali mematok besaran dana pada korporasi, kegiatan CSR pada konsteks ini hanya menasbihkan slogan, 'cuma soal rupiah.' "Perusahaan kan sudah membayar pajak, sudah ada juga aturan soal lingkungan hidup, jadi ini semata-mata bukan soal dana, tapi ada aspek etika, serta tanggung jawab pada program yang berkesinambungan," ujar Maria.
Edukasi serupa juga harus dilakukan pada masyarakat. Semangat untuk berdaya, menjadi kunci agar hubungan dengan perusahaan dengan tak menyerupai sinterklas dan anak yang mengharapkan kado.
"Kendati begitu, kini semakin banyak program CSR yang bagus, kami pernah melakukannya bersama perusahaan BUMN di Cilacap, Gresik dan Jakarta Utara. Ada pemberian beasiswa terhadap siswa SMK, partnertship dengan Balai Latihan Kerja milik pemerintah, yang itu jadi nilai plus cukup besar, bimbingan karakter dan wirausaha serta branding perusahaan di bengkel tempat mereka magang serta bengkel-bengkel baru yang anak-anak itu rintis," ujar Maria.
Di depan para mahasiswa MM, yang menurutnya adalah profesional dari berbagai departemen di aneka institusi, Maria berpesan, pemahaman CSR seharusnya dimiliki seluruh anggota tim. "Karena prinsipnya adalah perilaku yang bertanggungjawab, jadi tim sales tidak akan membuat bagian produksi kemudian mengalirkan limbah yang seharusnya masih diendapkan.
Sebaliknya, seperti dalam kisah sukses program CSR yang sudah mengimplementasikan shared value, dengan program menukar botol bekas kosmetik dengan poin diskon, semua tim diuntungkan," kata Maria. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved