Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Jumlah Jemaah Wafat Meningkat

Laporan Siswantini Suryandari dari Arab Saudi
15/9/2017 09:29
Jumlah Jemaah Wafat Meningkat
(AP/Khalil Hamra)

JEMAAH haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi terus bertambah. Tercatat, sampai 13 September 2017, 438 jemaah wafat. Jumlah itu sudah melampaui total jemaah wafat pada 2016, yaitu 342 orang.

Ke depan, perbaikan dalam sistem pemantauan kesehatan calon jemaah haji perlu dilakukan agar faktor-faktor risiko kesehatan yang dimiliki jemaah haji bisa dikendalikan.

Hal itu diungkapkan dokter Abidin Syah dari subkesehatan Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI). Pihaknya meminta, ke depan, para dokter di puskesmas tingkat kecamatan harus aktif memantau kondisi kesehatan calon jemaah haji Indonesia.

"Ada waktu enam bulan bagi jemaah haji untuk mempersiapkannya. Tapi yang kami temui saat di Mekah maupun Madinah, banyak buku kesehatan haji yang kosong. Tidak ada catatan medis jemaah. Saat jemaah sakit di Arab Saudi, dokter yang bertugas di sini bingung karena tidak ada petunjuk riwayat kesehatan si pasien," kata Abidin di Madinah, Rabu (13/9).

Ia menjelaskan, sesuai dengan peraturan menteri kesehatan, jauh hari sebelum keberangkatan setiap calon haji diperiksa di puskesmas tingkat kecamatan. Dokter wajib melaporkan kondisi jemaah dalam catatan medis haji.

"Hasil pemeriksaan di puskesmas, apabila jemaah ini berpotensi sakit tertentu, misalnya hipertensi, selama masa tunggu pembagian kloter jemaah harus diobati," ujarnya.

Lalu, saat jemaah sudah mendapatkan nomor kloter, mereka wajib memeriksakan kesehatan di tingkat kabupaten/kota atau provinsi. Catatan dari puskesmas kecamatan menjadi pertimbangan.

"Saat pemeriksaan di tingkat atas itu, bisa dipantau perkembangan lebih lanjut. Catatan kesehatan itu diserahkan ke embarkasi. Bisa berangkat atau tidaknya jemaah itu kewenangan embarkasi yang ditangani Kementerian Agama," jelasnya.

Namun, faktanya, lanjut dia, saat ini banyak jemaah yang tidak memenuhi syarat istitaah (mampu dari segi kesehatan) tetap diberangkatkan ke Tanah Suci. Padahal antara Menteri Agama dan Menteri Kesehatan telah membuat kesepakatan bersama terkait dengan persyaratan calon jemaah haji pada 2015.

"Bila hal-hal yang telah disepakati kedua kementerian bisa dijalankan mulai jenjang paling bawah, faktor-faktor risiko kesehatan yang dibawa jemaah haji saat di Arab Saudi bisa dikendalikan," katanya.

Terbanyak di Mina
Kasie Penghubung Kesehatan Daker Mekah, dokter Ramon Andrias, merinci, dari total jemaah wafat, lima di antaranya wafat di Jeddah, 309 wafat di Mekah, 37 wafat di Madinah, 20 wafat di Arafah, dan 67 jemaah wafat di Mina. Sebanyak 18 orang dari jumlah yang wafat ialah jemaah haji khusus.

"Dari 438 kematian, 342 itu kematian di atas umur 60 tahun. Memang sudah risti (berisiko tinggi). Dari faktor usia sudah risti, ditambah lagi dengan penyakit," kata Ramon di Mekah, Rabu (13/9).

Ia menambahkan tingginya angka kematian jemaah juga disebabkan kuota haji tahun ini lebih besar. Selain itu, cuaca tahun ini lebih panas. Sepekan ini, suhu di Mekah berkisar antara 43 dan 46 derajat celsius. Di Madinah suhu lebih panas lagi dan kelembapan udara rendah. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya