Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Keimanan Hal Mendasar dalam Bangun Karakter

Dhika Kusuma Winata
08/9/2017 09:14
Keimanan Hal Mendasar dalam Bangun Karakter
(Sejumlah anak berkeliling membawa obor saat kegiatan pawai takbir menyambut Hari Raya Iduladha 1438 H di kawasan Kuta, Bali, Kamis (31/8)---ANTARA/Fikri Yusuf)

KEIMANAN dalam beragama merupakan hal mendasar dalam pembangunan karakter. Terdapat lima nilai pembangunan karakter yang perlu dirawat bangsa ini. Di antaranya spiritualitas yang dinamis dengan memadukan dua kesalehan, yakni kesalehan individual dan kesalehan sosial. Saleh secara sosial bisa dipraktikkan melalui saling menolong terhadap sesama.

"Kedua kita juga perlu membangun solidaritas kebangsaan yang harmonis dan toleran serta mengedepankan kepentingan bangsa," jelas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tabligh, Yunahar Ilyas dalam focus group discussion (FGD) bertajuk Peningkatan Peran Lembaga-Lembaga Umat Beragama dalam Pembangunan Karakter Bangsa, di Jakarta, kemarin (Kamis, 7/9).

FGD digelar Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD), Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri (FKPPI), dan Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti (YSNB).

Selain itu, dibutuhkan juga kedisiplinan. Aspek itu, ujar Yunahar, berkaitan dengan sikap patuh hukum dan menghindari kekerasan.

Kemandirian dalam bentuk rasa percaya diri di hadapan bangsa lain, tambah Yunahar, penting ditanamkan kepada generasi muda. "Jangan minder dengan bangsa lain. Kita juga harus mendidik anak-anak agar belajar bekerja keras. Nilai-nilai itu perlu kita pelihara dan tingkatkan."

Senada, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Albertus Patty menyoroti krisis kepercayaan yang dialami bangsa ini, termasuk ketidakpercayaan kepada lembaga agama.

Terjadinya kekerasan, sambungnya, merupakan tanda ketidakpercayaan terhadap institusi yang ada. Akibatnya, penyelesaian terhadap ketidakpuasan yang disuarakan elemen masyarakat kerap menggunakan unsur-unsur kekerasan.

"Harus dibangun kembali kepercayaan itu. Kita bisa mengembalikannya melalui kultur dialogis. Itu yang selama ini hilang," pungkasnya.

Tolak Kekerasan
Lembaga-lembaga umat beragama memiliki peran yang utama dalam membangun karakter bangsa. Pasalnya, agama potensial untuk membentuk budi pekerti secara positif.

“Agama jelas sangat penting sebagai pedoman pembentukan karakter setiap insan,” ucap Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan, Jaya Suprana.

Pembangunan karakter bisa menjadi jalan untuk menjaga bangsa ini dari kekerasan dan perpecahan. Pembiaran terhadap kekerasan, yang kemudian seolah menjadi pembenaran, tidak boleh terjadi agar bangsa ini terhindar dari bencana kemanusiaan seperti yang terjadi di Myanmar.

Menurutnya, masalah utama dalam setiap peradaban, termasuk yang dihadapi bangsa ini, ialah kekerasan antar sesama manusia. Namun di sisi lain, lanjutnya, agama juga potensial membentuk karakter yang negatif yang mempromosikan kekerasan. Dalam konteks itu, ia mencontohkan terorisme dan kekerasan mengatasnamakan agama yang dilakukan kelompok Islamic State (IS).

Karena itu, dirinya mengajak lembaga-lembaga umat beragama yang ada di Tanah Air agar memiliki satu keyakinan yaitu tidak membenarkan kekerasan. Jika lembaga agama tidak bersikap tegas, kata Jaya, kekerasan yang terjadi bisa berkepanjangan dan bersifat merusak.

Ia mengatakan contoh paling mutakhir ialah gagalnya lembaga umat beragama di Myanmar yang tidak tegas menolak kekerasan yang terjadi pada etnik Rohingya.(H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya