Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
TIGA keluarga di Kampung Pasir Pari, Desa Pasir Huni, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya tidak tercatat sebagai peserta Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah digulirkan pemerintah bagi keluarga tidak mampu. Mereka selama ini tinggal di satu rumah berukuran 4x6 meter, dan tidak sanggup memenuhi kebutuhan beras hingga mengkonsumsi dengan lauk kulit singkong yang didapatkan setiap hari.
"Kami hanya bisa tinggal bersama 12 orang mulai dari anak dan cucu hingga terpaksa tidur berdesak-desakan, karena selama ini tidak mampu untuk membeli rumah dan juga memperbaiki rumah dalam kondisi bolong terbuat dari bilik. Sedangkan kepala keluarga hanya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp20 ribu sampai Rp30 ribu setiap hari," kata Unesih, 63, Sabtu (26/8).
Unesih mengatakan, selama ini keluarga belum pernah didatangi petugas Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya dan juga petugas dari Program Keluarga Harapan (PKH) yang mencatat sebagai keluarga miskin penerima kebutuhan tersebut. Padahal, lanjut dia, sudah banyak masyarakat mendapatkan uang sebagai peserta PKH.
"Kami sangat ironis banyak orang telah mendapatkan uang dari program keluarga harapan yang setiap kali bisa membeli beras, biaya sekolah anak dan kebutuhan lainnya, tapi selama ini keluarga hanya bisa mengandalkan dengan memunggut bekas panen (gabah) sisa dari batang padi yang belum di gebug pemilik lahan persawahan agar bisa menjadi beras," ujarnya.
Putra Unesih, Asep Supriadi mengungkapkan pihaknya berharap pemerintah daerah untuk segera membantu dalam membangun rumahnya agar layak ditempati. Karena selama ini pemerintah tidak mencantumkan keluarganya dalam program keluarga harapan.
"Kami melihat tayangan tevisi dari tetangga banyak orang telah mendapatkan uang dari program tersebut, tetapi keluarga hanya bisa mengelus dada karena tidak tercatat apalagi mendapatkan beras rasta juga tidak pernah didapat dari pemerintah," paparnya.
Asep mengungkapkan, kebutuhan sehari-hari bagi keluarga sangat kerepotan terutama membeli beras dan memperbaiki rumah. Karena setip hari ibunda secara terpaksa memasak kulit singkong untuk lauk pendamping nasi yang dihasilkan dari sisa panen pemilik lahan persawahan milik orang lain tetapi selama memasak kulit singkong terlebih dulu dicuci bersih hingga dimasaknya menggunakan tungku api.
"Kami sudah bertahun-tahun tidak memiliki gas elpiji dan hanya bisa menggunakan tungku api dari mulai memasak nasi hingga kulit singkong dengan bumbu seadanya. Demi menghidupi keluargnya terpaksa ibunda mengumpulkan jerami dan menggebug ulang dengan harapan ada butir padi yang menyisakan," paparnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Pasir Huni, Yadi Cahyadi membenarkan banyak warganya yang masuk kategori warga miskin tidak mampu berjumlah 430 Kepala Keluarga belum tercatat sebagai peserta program keluarga harapan (PKH) dan mereka juga belum mendapatkan beras rasta dari pemerintah setiap bulannya. Sedangkan pemerintah desa tetap berupa agar mereka mendapatkan bantuan, tetapi sampai sekarang ini belum merespons pengajuan tersebut.
"Pemerintah daerah belum merespon terkait bantuan bagi rumah tak layak huni bagi masyarakat, pemerintah desa juga telah berupa agar mereka tercatat sebagai peserta PKH dan bisa menerima beras rasta setiap bulan untuk menyambung perekonomian keluarga. Namun selama ini, mereka juga belum menerima program yang diberikan pemerintah pusat mulai dari peserta PKH, bantuan rasta dan bantuan penggunaan gas elpiji 3 kg," katanya.
Yadi mengungkapkan, kampung Pasir Pari berada di dataran tinggi sekarang ini sulit mendapatkan air bersih terutama air yang dipakai di toilet umum berasal dari kampung tetangga dengan jarak pipa air sepanjang 1,5 km. Sedangkan dana desa yang didapatkan dari pemerintah hanya diperuntukan untuk memperbaiki infrastruktur jalan.
"Banyak masyarakat yang akan buang air kecil, mandi, dan mencuci pakaian, mereka harus pergi ke toilet umum dengan jarak tempuh 1,5 kilometer yang telah dibangun oleh siswa SMA dari Jakarta dan selama berada di sana warga selalu antre dari pagi dan sore hari," pungkasnya.(OL/3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved