Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Kolaborasi Peneliti Genjot Produktivitas

Agus Utantoro
23/8/2017 07:46
Kolaborasi Peneliti Genjot Produktivitas
(ANTARA/JAFKHAIRI)

Para peneliti harus memosisikan diri mereka selalu siap berkolaborasi dengan sumber daya manusia dan alat yang dimiliki sebagai modal utama. Hal ini bertujuan agar bisa tercipta riset kolaboratif dalam negeri atau luar negeri dan akademis ataupun industri yang berimplikasi pada peningkatan produktivitas penelitian di Indonesia.

Hal itu disampaikan Deputi Ilmu Pengetahuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksono Tri Handoko, pada seminar nasional bertajuk Membangun Iptek Bermartabat: Etos, Etika, dan Strategi di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Senin (21/8).

Menurut Laksono, terdapat kontrol kualitas riset berlapis tanpa menambah administrasi. Selain itu, terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas hak kekayanan intelektual dan lisensi.

Laksono lebih lanjut menyampaikan strategi pelaksanaan riset dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi riset. Dengan begitu diharapkan, kita nantinya mampu berkompetisi dan berkontribusi untuk menciptakan Indonesia yang maju dan beradab.

Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi dan sinergi lebih erat antara lembaga litbang dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas riset. Itu dibarengi pula dengan strategi kemitraan dengan industri dan swasta.

“Eksplorasi pendanaan harus dilakukan tidak hanya dari hasil akhir riset, tetapi juga dari proses aktivitas riset. Sementara itu, kompetisi terbuka dan fair penting untuk meningkatkan etos sebagai bagian dari kontrol kualitas riset,” tuturnya.

Rendah
Tingkat produktivitas penelitian di Indonesia harus diakui masih sangat rendah. Bahkan dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2015, tingkat produktivitas riset itu berada pada angka 0,02%, sedangkan idealnya pada angka 15%.

Menurut Laksono, rendahnya produktivitas itu sebenarnya bukan disebabkan rendahnya sumber daya manusia. “Sebenarnya dari jumlah SDM tidak terlalu kurus, tetapi produktivitasnya rendah baik publikasi maupun paten,” jelasnya.

Menurut dia, Indonesia memiliki prevalensi peneliti yang tidak terlalu rendah, yakni 1.071 per satu juta penduduk. “Karena itu, penting melakukan penguatan kapasitas dan kompetensi riset Indonesia,” tegasnya.

Hilirisasi penelitian
Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah X Herri mengatakan hilirisasi penelitian penting bagi penguatan pembangunan di tengah masyarakat.

“Hilirisasi berarti penciptaan model, sistem, dan produk. Ini seharusnya ditekankan pada dosen peneliti di kampus,” ujar dia di Padang, Senin (21/8).

Dia mengatakan di kampus lingkungan Kopertis X sebagian besar masih penelitian bentuk dasar. Hal itu terlihat dari rendahnya jumlah guru besar yang hanya 18 orang dari total 8.000 dosen yang ada.

Akibatnya, bila dibandingkan dengan kampus negeri yang ada di empat provinsi, Sumatra Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau, masih sedikit dosen yang menciptakan karya aplikatif.

Padahal, tambahnya, jumlah kampus 246 unit dan 12 macam fokus bidang kekhususan sudah dapat menghasilkan temuan dan inovasi.

“Pentingnya hilirisasi ini terlihat di kampus populer di Indonesia seperti ITB atau IPB,” ujar dia. (Ant/H-1)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya