Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA pemerintah saat ini dalam membangun karakter bangsa patut didukung. "Membangun karakter bangsa tidak semudah membalik telapak tangan. Maka harus dijalankan sejak anak usia dini," kata Dr Bambang Parma Setiawan, pakar budaya Yayasan Suluh Nusantara Bhakti (YNSB), pada focus group discussion (FGD) bertajuk Penguatan Nilai Keindonesiaan dan Pembangunan Karakter Bangsa di Jakarta, kemarin.
"Program pemerintah yang dijalankan Kemendikbud melalui Program Pendidikan Karakter atau PPK yang akan kami bahas dalam simposium merupakan benteng bagi anak-anak dan generasi muda untuk bangga menjadi anak Indonesia," tambah Bambang.
FGD terkait dengan Simposium Nasional Kebudayaan pada November. Ketua Pembina YNSB Pontjo Sutowo, Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD) Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, sesepuh PPAD Jenderal TNI (Purn) Wijoyo Suyono, dan Letjen TNI (Purn) Slamet Supriadi selaku penyelenggara FGD dan Ketua Panitia Penyelenggara Simposium Nasional Kebudayaan pun ikut hadir.
Menurut Bambang, pihaknya telah mengumpulkan pakar dan cendekiawan untuk membahas format membangun kebudayaan dan pendidikan karakter. Dalam menumbuhkan kebanggaan anak Indonesia pada negerinya, nilai-nilai keindonesiaan seperti gotong-royong yang bercirikan pada Pancasila mesti digali.
Terkait dengan ini, Pontjo mengatakan simposium harus me-nerjemahkan pemahaman dan pengertian gotong-royong yang dapat dipahami generasi muda.
"Keberagaman kita merupakan hal yang luar biasa dan kita harus menjaga kebudayaan yang kita miliki. Maka kita perlu belajar budaya kita gali dan perkukuh dari nilai-nilai kebudayaan kita ribuan tahun lalu di Nusantara kita," ujarnya. Slamet menambahkan, simposium kebudayaan akan merekomendasikan jalan kebudayaan dalam pembangunan nasional.
"Simposium yang kita gelar merupakan strategi pembangunan melalui budaya yang dewasa ini kurang diperhatikan. Budaya nasional kita seakan ditinggalkan, sementara budaya asing lebih menonjol. Di sisi lain, ancaman intoleransi dan radikalisme juga mencuat. Maka kita bahas bersama untuk menjadi masukan bagi pemerintahan kita," kata Bambang. Simposium kebudayaan diharapkan akan dibuka Presiden Joko Widodo. Bay/H-1
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved