Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Banyak Keunggulan Sagu Perlu Digarap secara Serius

08/8/2017 08:40
Banyak Keunggulan Sagu Perlu Digarap secara Serius
(ANTARA/Akbar Tado)

PEMERINTAH semestinya menggarap secara serius potensi sagu sebagai alternatif sumber karbohidrat.

Berdasarkan penelitian, sagu memiliki banyak keunggulan dari sisi kesehatan dan ekonomi.

Sagu juga sudah bisa dimodifikasi menjadi 'beras' dan mi sehingga bisa lebih memenuhi selera konsumsi masyarakat.

Hal itu diungkapkan peneliti utama Pusat Teknologi Agroindustri di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Bambang Hariyanto, di Jakarta, kemarin.

"Kami di BPPT sudah mengembangkan sagu menjadi beras sagu yang bisa dimasak dengan rice cooker. Nasi dari beras sagu itu sudah melalui tahap uji klinis pada sejumlah pengidap prediabetes (kadar gula darah mendekati golongan diabetes) selama beberapa waktu. Hasilnya, konsumsi nasi dari beras sagu itu mampu menurunkan kadar gula darah mereka," papar Bambang.

Dampak positif itu, lanjutnya, disebabkan sagu merupakan karbohidrat kompleks yang memiliki indeks glikemik rendah.

Indeks glikemik merupakan parameter yang menunjukkan seberapa cepat makanan dicerna untuk menghasilkan gula yang nantinya masuk ke aliran darah.

Semakin rendah indeks glikemik, semakin baik pengendalian gula darah.

Keunggulan lainnya, tanaman sagu merupakan penyedia karbohidrat yang lebih besar daripada tanaman penghasil karbohidrat lain.

Produksi pati sagu setiap hektare mencapai 15 ton, jauh lebih tinggi daripada padi (7 ton), jagung (5 ton), dan ubi kayu (12 ton).

Dari sisi daya simpan, lanjut Bambang, sagu sangat unggul.

"Rendahnya kandungan protein dan lemak dalam sagu membuatnya tahan disimpan hingga bertahun-tahun. Cocok untuk cadangan pangan," terangnya lagi.

Tak hanya itu, tanaman sagu tergolong tahan terhadap perubahan iklim, kekeringan, dan banjir.

Ketua Masyarakat Sagu Indonesia, Dwi Asmono, mengatakan tanaman sagu tersebar di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, dan Jawa dengan produktivitas 585.493 ton/tahun.

Itu merupakan hasil panen tanaman sagu tanpa perawatan khusus seperti halnya dengan padi. Produksi itu tentunya dapat meningkat berkali lipat jika ada mekanisme tanam yang lebih tersistem.

"Mengubah kebergantungan masyarakat terhadap beras tentu tidak mudah. Namun, mengenalkan dan mengampanyekan komoditas substitusi seperti sagu ini harus segera kita awali," pungkasnya. (Nik/H-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya