Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Tak Terbiasa, Sarapan Roti Nggak Wareg

Siswantini Suryandari/J-3
06/8/2017 08:40
Tak Terbiasa, Sarapan Roti Nggak Wareg
(Kesibukan di dapur katering Al Yassirah Al Arabia.co for Catering di Madinah. Jatah makan jemaah sebanyak tiga kali. Sarapan memakai menu roti, sedangkan siang dan malam adalah nasi, lauk dan sayuran. -- MI/Siswantini Suryandari)

“SETIAP sarapan menunya roti. Saya tidak bisa makan roti. Perut saya sudah terbiasa terisi nasi. Saya ndak kenyang. Pokoke nggak wareg (tidak kenyang) lah, “ kata Mansyur, jemaah asal Kota Blitar, Jawa Timur, kepada saya selaku petugas haji Indonesia di depan pelataran Masjid Nabawi, Madinah, kemarin.

Lantaran itu, Mansyur dan istrinya kerap membeli makanan untuk menambah sarapan roti di sekitar Masjid Nabawi. Namun, harga makanan cukup mahal. Ia kedodoran juga dengan biaya tambahan sarapan itu. “Saya mau beli rice cooker. Saya mau masak nasi sendiri di hotel biar bisa makan ramai-ramai,” kata Mansyur.

Istrinya langsung memegang lengan saya, “Mbak tolong antar kami ke toko rice cooker. Daripada tiap pagi lapar karena tidak sarapan dengan nasi.”

Saya kemudian menjelaskan bahwa hal itu dilarang sebab tahun lalu terjadi kebakaran hotel, yang disebabkan jemaah memasak nasi di rice cooker yang diletakkan di kasur dan ditinggal salat di Masjid Nabawi. Terjadi korslet pada rice cooker dan memicu kebakaran di hotel itu. “Kami catat saja Pak keluhannya, nanti kami sampaikan kepada petugas katering,” ujar saya.

“Benar Mbak, saya tunggu kabarnya, ya,” ujar Mansyur dengan nada berharap, sembari mengajak rombongan termasuk istrinya meninggalkan pelataran Masjid Nabawi
Kemudian saya masuk ke Masjid Nabawi di bagian perempuan. Seusai salat Subuh, jemaah masih berkerumun menunggu waktu salat sunah Duha. Rombongan ibu dari embarkasi Padang, Sumatra Barat, sedang berkumpul dekat pintu masuk. “Assalamualaikum. Ibu-ibu mau ke mana? Apa tercecer dari rombongan?” tanya saya saat bertemu mereka.

“Kami menunggu salat Duha,” ujar Welly, salah satu jemaah.

Mereka juga mengeluhkan dan mempertanyakan hal yang sama, mengapa sarapannya dengan roti. Apakah petugas tidak tahu kebiasaan masyarakat Indonesia jika sarapan selalu dengan nasi?

Ketika tengah asyik saling curhat, datanglah jemaah lain, Suryani, dari Embarkasi Lampung. Tahu saya salah satu petugas haji, dia langsung curhat. “Mbak minta tolong, mau tanya, sarapan kok roti, ya. Suami saya enggak suka. Ini saya beli nasi India, mahal harganya,” kata Suryani.

Kabid Katering Daker Madinah Ahmad Abdullah membenarkan bahwa menu sarapan berupa satu croissant dan satu cupcake. Itu karena tidak memungkinkan bagi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melayani jemaah dengan tiga kali makan nasi.

“Alasannya aspek kesiapan dari perusahaan itu sendiri. Pengawasan petugas sangat terbatas. Jemaah juga mendapatkan biaya hidup (living cost) yang diharapkan bisa menjadi bekal selama di Madinah dan Mekah,” dalih Ahmad, sembari meyakinkan pihaknya terus mengkaji soal sarapan dengan nasi. Entah kapan realisasinya, mungkin musim haji mendatang. (Siswantini Suryandari/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik