Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Konferensi Internasional, Pakar Komunikasi Bahas Pasca Kebenaran

Syarief Oebaidillah
05/7/2017 13:47
Konferensi Internasional, Pakar Komunikasi Bahas Pasca Kebenaran
()

MASALAH pasca kebenaran atau post truth menjadi pembahasan penting di dunia dan menjadi yang terbanyak diungkap dalam kamus Oxford. Yang cukup merisaukan adalah banyak yang berpendapat tidak penting lagi kebenaran itu karena yang terpenting adalah apa yang dicapai,

Dilandasi keprihatinan itu, para sarjana komunikasi dari beberapa negara akan berkumpul dan membahas bersama dalam konferensi internasional bertajuk Indonesia International Graduate Conference on Communication (Indo-IGCC) 2017.

“Communication Governance and Research: Post-Truth Era akan berlangsung pada 11-12 Juli 2017 di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltiik Universitas Indonesia ( FISIP UI) Depok, Jawa Barat.

"Kita berharap para peneliti dari berbagai sudut dapat meneropong post truth ini. Saya mencoba memberikan kerangka dan tentu saja akan ada yang bilang saya pun belum tentu benar, itukan kebenaran dari pak Alwi, " cetus Alwi Dahlan saat dihubungi Media Indonesia. Namun, hemat dia, kewajiban ilmuwan untuk meneliti secara jernih dan tidak cepat mengambil kesimpulan dari isu tersebut patut dilakukan.

Alwi Dahlan yang menjadi salah satu pembicara kunci Indo –IGCC itu menjelaskan kata post truth menjadi terkenal sebagai acuan karena Oxford setiap tahun melakukan survei tentang kata dan masalah baru yang paling penting, berpengaruh serta banyak dibicarakan.

“Dengan itu, Oxford menyimpulkan Post Truth sebagai Word of the Year 2016,” ungkapnya. Alwi Dahlan mengambil contoh saat terpilihnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Referendum Brexit negara Inggris dari komunitas Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE).

“Trump dinilai tidak mengerti pemerintahan , kampanyenya menggunakan isu tidak benar seperti menjelekkan Obama, bukan kelahiran AS dan sebagai orang Islam Kenya. Begitupun dalam polling tidak unggul namun terpilih menjadi Presiden AS.

Referendum Brexit sejatinya juga merugikan Inggris keluar dari MEE namun toh rakyatnya memilih untuk Brexit. "Nah, ini namanya apa yang disebut pasca kebenaran, bahwa kebenaran tidak diperlukan lagi karena yang terpenting keramaiannya,” papar Alwi Dahlan.

Jadi, lanjut dia, inilah dampak kemajuan Informasi dan Teknologi (IT) serta media sosial (media sosial ) yang dalam ilmu komunikasi berkembang amat pesat dan berefek sedemikian rupa.

“Intinya pada kasus Trump banyak hal tidak benar yang dikatakannya namun dianggap hebat dan mendapat dukungan dan dia dikenal pandai bermedsos melalui Twitter," tukas Alwi.

Menengok Indonesia, Alwi melanjutkan juga terjadi dalam perhelatan pilkada. Ia mencontohkan adanya simpatisan yang tinggi kepada salah satu calon gubernur yang kalah dengan mengirim banyak bunga dan terkesan adanya kurang simpati pada pemenang pilkada.

“Dari sudut pandang kebenaran ini hal yang aneh. Sebenarnya jika kalah dalam pilkada sebaiknya berjuang saja pada pilkada berikutnya," ujarnya.

Alwi mengingingatkan seandainya kita hidup dalam era pasca kebenaran dan tidak peduli kepada sejatinya kebenaran maka akan semakin kacau. Sebagai tokoh komunikasi yang tidak memunyai jabatan dan kedudukan dan berperan sebagai peneliti , Alwi mengaku merasa terpanggil untuk membahas masalah ini dengan jernih.

“Dari segi komunikasi hal ini kita bahas bersama, kita teliti bersama apa yang menjadi sebab hal ini," ujarnya. Alwi berpendapat kalangan media massa dahulu dalam memuat pemberitaan tentang kebenaran bersikap obyekti namun dewasa ini banyak yang menyebut media massa berpihak tertentu sehingga tidak obyektif lagi. Akibatnya masyarakat menggunakan media alternatif melalui medsos.

Namun ia berpandangan medsos itu diperlukan di masyarakat untuk saling bertukar pikiran secara sehat serta saling mendiskusikan melihat kebenaran dalam berbagai sudut pandang. Dalam komunikasi di media sosial tentang berbagai hal, bermula seorang melihat satu pandang an itu yang benar namun setelah berdiskusi dengan yang lain dapat menambah wawasanya tentang suatu kebenaran dan dapat menemukan kebenaran yang disepakati bersama.

“Jika kita merasa tidak perlu lagi melihat kebenaran bagaimana masyarakat kita ini ke depannya. Perbincangan itu diperlukan agar utuh melihat sesuatu. Kita berusaha mencari kebenaran secara bersama namun jika kita mencari kesimpulan dan dikaitkan dengan kekuasaan dan politik menjadi tidak obyektif lagi,” pungkasnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik