Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Ki Manteb Kembali Terima Penghargaan Internasional Kebudayaan

Widjajadi
04/7/2017 06:31
Ki Manteb Kembali Terima Penghargaan Internasional Kebudayaan
(Ki Manteb, sang maestro dalang kembali menerima pengharagaan internasional di bidang kebudayaan dari Unima. -- MI/Widjajadi)

PENGHARGAAN internasional di bidang kebudayaan lagi-lagi diraih dalang kondang Ki Manteb Soedharsono. Pria 69 tahun asal Mojolaban, Sukoharjo itu, kali ini meraih penghargaan dari organisasi teater boneka dunia yakni Union Internationale de la Marionnette (Unima) atas dedikasinya yang tidak kenal lelah di panggung pakeliran, sejak wayang kulit ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco pada 2004 silam.

Penghargaan internasional di bidang kebudayaan ketiga ini, diterima dari Unima Asia Pasific pada Senin (3/7) malam di pendopo Institut Seni Indonesia ( ISI ) Surakarta. Ki Manteb mendapatkan 'remarkable of contributions certificate' dari lembaga kebudayaan yang berpusat di Prancis itu setelah lolos dari penilaian barisan juri yang berasal dari 17 negara di tengah perhelatan Festival Wayang Dunia di Nanchong, Tiongkok pada 17 Juni lalu.

Sebenarnya ada dua nama dalang kondang Indonesia yang diusulkan Unima Asia Pasific, yakni dalang wayang Bali Ki Made Sidia dan Ki Manteb. Namun karena batas usia Ki Made sudah lebih dari 70 tahun yang menjadi persyaratan batas usia, di samping tidak lagi berkarya, akhirnya Ki Manteb lah yang terpilih. Ki Made Sidia saat ini sudah berusia lebih dari 80 tahun.

Presiden Unima Indonesia Samudera Wijaya mewakili Unima Asia Pasific menyatakan, banyak kelebihan yang dimiliki Ki Manteb, sehingga 17 juri dari berbagai negara itu menetapkan pilihannya.

"Selain kondang mendunia, Ki Manteb sering memperoleh penghargaan internasional. Dan dalam usia sepuh masih terus berkarya, serta yang istimewa adalah menjadi pengarang lagu Bung Karno dan NKRI untuk pertunjukkan pakelirannya," tutur Samudera usai menyerahkan penghargaan kepada Ki Manteb di atas panggung.

Ki Manteb merasa bahagia dan sekaligus tertantang mempertahankan eksistensinya di jagat pakeliran wayang kulit dengan adanya penghargaan internasional untuk kali ketiga tersebut. " Ini benar-benar sebuah kebahagiaan dan sekaligus tantangan. Sebab saya bukan lagi Ki Manteb dua puluh tahun lalu. Ontowecana saya sudah pelo, demikian pula vokal sudah blero," tutur dia yang disambut tertawa para akademisi ISI Surakarta yang hadir dalam acara itu.

Untuk mengatasi kemerosotan kualitas ontowecono dan vokal di tengah usianya yang sudah sepuh itu, Ki Manteb mengaku terus mempertahankan dan menjaga sanggit lakon. Empu Paripurna bidang pewayangan ISI Surakarta ini meyakini, pakeliran bisa terus diterima masyarakat, karena sanggit lakon digarap secara serius, sehingga mampu memberikan gambaran utuh alur cerita dan sekaligus karakter tokoh wayang yang dimainkan.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik