Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Buku Bacaan Anak Perlu Pengawasan Serius

Ths/H-1
03/7/2017 01:51
Buku Bacaan Anak Perlu Pengawasan Serius
(ANTARA/Andika Wahyu)

KASUS bahan bacaan anak yang mengandung konten pornografi masih banyak ditemukan di masyarakat.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai lemahnya pengawasan menyebabkan konten-konten tersebut lolos ke publik.

Komisioner KPAI Retno Listiarti mengatakan buku bacaan anak mengandung konten pornografi bukan pertama kali terjadi di Indonesia, bahkan sudah berulangkali.

"Namun sayangnya, tidak pernah ada upaya pembenahan yang signifikan," katanya saat dihubungi Media Indonesia, di Jakarta, kemarin.

Kasus di buku cerita Si Kabayan Super Kocak, Kumpulan Cerita Kabayan yang Cerdik dan Menggelitik.

Kata dia, pasti lebih sulit mendapat perhatian dari pemangku kepentingan, karena dianggap sekedar buku cerita (suplemen) dan bukan buku pelajaran atau buku teks.

"Yang ada di buku pelajaran pun tak pernah ditangani serius," tukas Retno.

Ia memberi contoh buku PLBJ (Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta) untuk SD kelas 2, di mana ada kisah bang Maman dari Kali Pasir.

"Cerita ini tak hanya menyuguhkan kalimat serupa dengan kabayan tadi tapi juga konten kekerasan seperti dilengkapi gambar para lelaki yang memegang golok, muncul kata bunuh, cerai, istri simpanan, dll. Usut punya usut, ternyata kisah bang Mamang Dari Kali Pasir justru ada dalam kurikulum yang disusun pemerintah dan belum dihilangkan, sehingga kisah bang Maman ada terus di buku PLBJ kelas 2," jelas Retno lagi.

Maka itu, agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi, butuh langkah pengawasan serius dari pemerintah, bisa melalui kementerian Perempuan dan perlindungan Anak bekerja Sama dengan kementerian pendidikan.

"Dan upayanya harus simultan, dengan sanksi tegas jika ada temuan serupa," ungkapnya.

Sebelumnya Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, mendesak buku ini segera ditarik.

"Kalau benar ada buku bacaan anak yang ternyata mengandung konten pornografi, baik yang dikemas dalam cerita kepahlawanan seorang tokoh budaya, tidak ada pilihan lain selain menariknya dari pasaran untuk tidak dijual lagi," kata Arist Jumat (30/6).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya