Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
HINGGA saat ini dipastikan belum ada laporan akan adanya serangan siber ransomware Petya di Indonesia.
Meski begitu, masyarakat diimbau untuk tetap wasapada dan melakukan beberapa upaya perlindungan pada komputer di rumah dan lingkungan kerja masing-masing.
"Petya telah melanda komputer di 64 negara di dunia. Berbagai negara seperti Ukraina, Rusia, India, dan negara-negara Asia Selatan lainnya sudah terinfeksi ransomware yang menyerang di berbagai sektor ini," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam jumpa pers, Jakarta, kemarin.
Rudiantara mengatakan serangan Petya mulai gencar melanda negara-negara dunia sejak Rabu (28/6).
Libur panjang setelah Idul Fitri diakuinya menjadi keuntungan bagi Indonesia karena meminimalkan potensi masuknya virus tersebut lewat jaringan internet perkantoran.
"Untuk itu, sangat diimbau pada masyarakat, putuskan dulu jaringan internet ke perangkat komputer Anda sebelum mulai bekerja Senin (3/7) nanti. Back up seluruh data yang ada sebelum kembali menyambungkan jaringan internet via apa pun," ujar Rudiantara.
Selain itu, seluruh pemilik perangkat komputer sangat disarankan untuk memperbarui antivirus rutin, menggunakan dan meng-upgrade sistem operasi asli, serta mengubah sandi berbagai akun pribadi berkala.
10 besar
Saat ini Indonesia berada dalam daftar 10 besar negara yang paling sering mengalami serangan siber.
Beberapa negara lain yang juga selalu mengisi posisi tersebut antara lain Amerika Serikat dan Tiongkok.
Sistem keamanan jaringan internet Indonesia yang masih sangat minim serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk memahami cara pengamanan teknologi menjadi penyebab utama.
"Untuk itu kami bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dibentuk sejak Mei terus mempercepat kerja melindungi jaringan di Indonesia. Khususnya di bidang perbankan, transportasi, dan energi," ujar Rudiantara.
Wakil Ketua ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure), Bisyron Wahyudi, di kesempatan yang sama mengatakan secara klasifikasi Petya memiliki kesamaan dengan ransomware Wannacry yang menyerang Indonesia beberapa waktu lalu.
Jika komputer terserang, akan muncul tampilan yang menandakan harddisk telah terenkripsi secara total.
"Tapi bedanya ini mengunci harddisk secara total, bukan hanya file seperti Wannacry. Jadi, jauh lebih merugikan," ujar Bisyron.
Untuk mengembalikannya, korban diharuskan membayar tebusan berupa bitcoin sebesar U$300.
Namun, masyarakat tidak dianjurkan untuk membayar tebusan karena dalam praktiknya tidak ada kontak atau pihak yang dapat tersambung dari peretas yang berperan membuka kembali harddisk yang telah terenkripsi.
"Dengan demikian, pembayaran juga hanya akan sia-sia. Bila telah diketahui terkena, segera putuskan jaringan internet dan back up data penting. Pemilik komputer memiliki waktu 10 menit sejak ada notifikasi serangan untuk memutus jaringan sebelum terlambat," ujar Bisyron.
Sementara itu, hingga saat ini, pemantauan pergerakan Petya terus dilakukan pemerintah untuk meminimalkan dampak bila serangan mengarah ke Indonesia. Belum diketahui sumber virus tersebut.
(H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved