Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

8 Alat Musik Tradisional Kalimantan Barat: Sejarah dan Cara Memainkannya

Thalatie K Yani
11/12/2025 07:30
8 Alat Musik Tradisional Kalimantan Barat: Sejarah dan Cara Memainkannya
Ilustrasi(Pinterest)

Kekayaan Nada dari Bumi Khatulistiwa

Provinsi Kalimantan Barat tidak hanya dikenal dengan sungai-sungai besarnya yang membelah daratan, tetapi juga kekayaan etnis dan budaya yang luar biasa. Akulturasi budaya, terutama antara suku Dayak dan Melayu, melahirkan ragam kesenian yang unik, termasuk dalam hal seni musik. Alat musik tradisional Kalimantan Barat memiliki karakteristik yang khas, baik dari segi bentuk, bahan pembuatan, hingga cara memainkannya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat setempat.

Musik bagi masyarakat adat di Kalimantan Barat bukan sekadar hiburan semata. Lebih dari itu, instrumen-instrumen ini memegang peranan vital dalam upacara adat, ritual penyembuhan, pengiring tarian perang, hingga sarana komunikasi kepada Sang Pencipta. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai berbagai jenis alat musik tradisional dari Kalimantan Barat yang wajib Anda ketahui.

1. Sape: Ikon Musik Dayak

Tidak lengkap rasanya membicarakan musik Kalimantan tanpa menyebut Sape. Alat musik ini adalah yang paling populer dan menjadi identitas suku Dayak, khususnya rumpun Dayak Kayaan. Sape berbentuk seperti gitar namun memiliki badan yang lebih lebar dan tangkai pegangan yang pendek.

Secara fisik, Sape terbuat dari kayu pilihan seperti kayu pelantan atau kayu merang yang diukir dengan motif khas Dayak yang rumit dan penuh makna filosofis. Cara memainkannya adalah dengan dipetik. Berbeda dengan gitar konvensional, Sape tradisional biasanya hanya memiliki dua hingga empat senar, meskipun Sape modern bisa memiliki lebih banyak senar untuk jangkauan nada yang lebih luas.

Dalam tradisi lama, Sape dimainkan dalam ritual penyembuhan atau upacara adat gawai. Namun kini, Sape telah bertransformasi menjadi instrumen pertunjukan yang mampu mengiringi lagu-lagu kontemporer dengan alunan nadanya yang mendayu dan mistis.

2. Keledik (Kedire)

Alat musik tradisional Kalimantan Barat berikutnya yang memiliki bentuk sangat unik adalah Keledik atau sering juga disebut Kedire. Instrumen ini termasuk dalam kategori aerophone atau alat musik tiup. Keledik terbuat dari buah labu tua yang dikeringkan, yang kemudian disatukan dengan beberapa batang bambu kecil sebagai penghasil nada.

Cara memainkannya adalah dengan meniup bagian mulut labu sambil menutup dan membuka lubang-lubang nada pada batang bambu, mirip dengan cara memainkan harmonika atau organ mulut. Masyarakat suku Dayak Kayung sering menggunakan Keledik untuk mengiringi tarian adat, nyanyian tradisional, atau upacara ritual panen padi. Suara yang dihasilkan Keledik bersifat pentatonis dan memiliki dengung yang khas yang tidak ditemukan pada alat musik modern.

3. Tuma

Jika Sape dipetik dan Keledik ditiup, maka Tuma adalah alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul (membranofon). Tuma merupakan gendang panjang khas Kalimantan Barat yang sering dijumpai pada masyarakat Dayak Kanayatn.

Bentuk Tuma menyerupai tifa dari Papua atau gendang panjang pada umumnya, namun dengan ukuran yang spesifik. Badannya terbuat dari kayu bulat yang dilubangi tengahnya, sementara bagian membrannya menggunakan kulit binatang, biasanya kulit sapi atau kijang. Tuma berfungsi sebagai pengatur ritme atau tempo dalam sebuah ansambel musik tradisional. Instrumen ini sangat vital keberadaannya dalam mengiringi tari-tarian pergaulan muda-mudi maupun tarian perang.

4. Gong (Agukng/Kollatung)

Meskipun Gong dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia, di Kalimantan Barat, khususnya bagi masyarakat Dayak, Gong (sering disebut Agukng atau Kollatung) memiliki nilai sakral yang sangat tinggi. Bagi masyarakat Dayak, Gong bukan sekadar alat musik pukul, melainkan juga simbol status sosial, harta kekayaan, dan mas kawin (belis).

Sebagai alat musik, Gong dimainkan dengan cara dipukul menggunakan stik kayu yang ujungnya dibalut karet atau kain. Bunyi dengung Gong dipercaya dapat memanggil roh leluhur dalam upacara ritual kaharingan atau upacara kematian. Dalam ansambel musik, Gong berfungsi sebagai pemangku irama dasar atau bass yang menjaga kestabilan tempo permainan musik lainnya.

5. Entebong

Sekilas, Entebong memiliki kemiripan dengan Tuma. Keduanya adalah alat musik pukul sejenis gendang yang berasal dari suku Dayak Mualang. Perbedaannya sering kali terletak pada detail ukiran, ukuran, dan peruntukan spesifik dalam upacara adat tertentu.

Entebong dibuat dari kayu utuh yang dilubangi, dengan salah satu sisinya ditutup menggunakan kulit hewan yang telah dikeringkan. Alat musik ini sering dimainkan secara berkelompok untuk menghasilkan ritme yang dinamis dan memacu semangat, terutama saat menyambut tamu kehormatan atau pesta panen raya.

6. Balikan (Kurating)

Sering disebut sebagai kerabat dekat Sape, Balikan atau Kurating adalah alat musik petik yang berasal dari suku Dayak Iban dan Dayak Kapuas Hulu. Perbedaan utamanya dengan Sape terletak pada ukurannya yang cenderung lebih kecil dan ramping, serta jumlah senar yang lebih sedikit.

Balikan menghasilkan suara yang lebih denting namun tetap lembut. Karena ukurannya yang lebih compact, Balikan sering dibawa oleh para tetua adat atau pemuda saat menjaga ladang atau mengisi waktu luang di rumah panjang (Betang). Meskipun tidak sepopuler Sape, Balikan tetap menjadi bagian integral dari warisan organologi musik Kalimantan Barat.

7. Sitar

Kalimantan Barat juga memiliki alat musik gesek yang disebut Sitar (jangan disamakan dengan Sitar India). Alat musik ini lebih umum ditemukan pada masyarakat Melayu Kalimantan Barat atau masyarakat Dayak yang telah mengalami akulturasi.

Sitar dimainkan dengan cara digesek seperti biola atau rebab. Suara yang dihasilkan cenderung melengking dan menyayat hati, sangat cocok untuk mengiringi syair-syair atau pantun melayu yang berisi nasihat kehidupan atau kisah asmara. Keberadaan alat musik ini membuktikan adanya perpaduan budaya yang harmonis di tanah Borneo.

8. Kangkuang

Kangkuang adalah alat musik pukul yang terbuat dari kayu dan diukir sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk hewan atau motif alam. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tongkat pemukul.

Masyarakat Dayak Banuaka sering menggunakan Kangkuang sebagai alat komunikasi jarak jauh antar kampung atau sebagai penanda bahaya, selain fungsinya sebagai instrumen musik pengiring tarian. Bunyinya yang nyaring dan ritmis mampu menembus keheningan hutan Kalimantan.

Pentingnya Pelestarian Budaya

Keberagaman alat musik tradisional Kalimantan Barat menunjukkan betapa tingginya peradaban seni yang dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Setiap instrumen tidak dibuat secara sembarangan, melainkan melalui proses spiritual dan perhitungan akustik yang matang menggunakan bahan-bahan alam.

Di era modern ini, upaya pelestarian sangat diperlukan agar Sape, Keledik, dan Tuma tidak hanya menjadi pajangan di museum. Generasi muda perlu didorong untuk mempelajari cara memainkannya, sehingga alunan nada dari hutan tropis ini tetap bergema melintasi zaman.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya