Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Marshanda mengungkapkan kekasihnya yang meninggal secara tragis pada awal 2023. Di channel Youtubenya, Marshanda menyebut kejadian itu sebagai fase terberat dalam hidupnya.
"2023 awal, itu salah satu titik rendah dalam hidup gue," kata Marshanda di Youtube MARSHANDA, pada Selasa (12/8). Ibu satu anak ini juga mengungkapkan bahwa hubungannya dengan sang kekasih yang seorang WNA itu sudah serius hingga hampir menuju pelaminan. “Di tahun 2022, gue lagi menjalin hubungan serius. Cuma kita nggak pernah go public karena dia orangnya private, nggak suka disorot,” lanjutnya.
Sang kekasih meninggal mendadak setelah jatuh dari balkon apartemen lantai 26 ke lantai 10. Usai dilakukan autopsi, ditemukan fakta bahwa serangan jantung yang lebih dulu terjadi sebelum insiden nahas itu.
Kehilangan sosok yang Marshanda cintai membuatnya terguncang dan meninggalkan luka mendalam. Bahkan di kala itu, Marshanda sempat menutup diri dari publik selama dua tahun karena merasa ekspresi dirinya tak lagi berarti.
“Selama dua tahun gue ngerasa ekspresi gue nggak ada nilainya. Mungkin itu bagian dari berduka,” katanya.
Apakah Wajar Berduka Selama 2 Tahun?
Seperti yang dialami Marshanda, ditinggal pasangan bukan hal yang mudah dilewati. Butuh waktu untuk kembali pulih dari rasa duka tersebut.
Lalu, apakah wajar apabila seseorang berduka selama 2 tahun? Seorang psikolog, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., mengutarakan setiap orang punya cara yang berbeda agar bisa menerima kepergian seseorang.
"Jika orang yang ditinggalkan memang masih belum bisa menerima kenyataan, maka satu tahun saja tidak cukup untuk berduka,” papar Ikhsan, seperti dilansir dari situs kesehatan Klik Dokter.
Sebab, ada beberapa tahapan berduka yang bisa dialami orang, mulai dari denial (menolak), anger (marah), bargaining (berandai-andai), depression (depresi), dan acceptance (menerima). Tidak ada waktu yang pasti kapan seseorang bisa benar-benar pulih dari rasa duka atas meninggalnya orang yang dicintainya.
Kapan Perlu Mencari Bantuan?
Oleh karena itu, menurut Ikhsan beberapa orang yang belum bisa menerima kepergian orang yang dicintai selama bertahun-tahun tetap dikatakan sebagai hal yang wajar. “Tapi, wajar itu pasti ada batasannya. Jika sampai menyalahkan diri sendiri dan mengganggu keseluruhan kualitas hidup, maka kondisi ini tidak lagi bisa dikatakan wajar,” katanya.
“Kalau setiap hari berduka, menangis tiada henti, terus menyalahkan diri atas kematian pasangan, tidak merawat diri, menjauh dari lingkungan sosial, ini sudah sangat tidak wajar. Individu tersebut mungkin perlu bantuan dari orang sekitar atau psikolog untuk memulihkan rasa dukanya,” lanjutnya. (M-1)
RESOLUSI tahun baru sebaiknya dimulai dari target yang masuk akal agar proses menjalaninya terasa lebih ringan dan tidak berubah menjadi tekanan atau hukuman atas kekurangan pribadi.
Remaja saat ini lebih membutuhkan dukungan emosional dan pendampingan untuk menavigasi kompleksitas ruang siber.
DPR mendorong adanya keterlibatan ahli dan profesional dalam menanggulangi kasus bullying agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Perilaku perundungan atau bullying tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari proses belajar anak terhadap lingkungan terdekatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Semakin remaja mengenali emosi dan nilai-nilainya, semakin mudah ia menentukan langkah dan pilihan hidup yang sesuai.
Psikolog sekaligus Founder dan Direktur Personal Growth Counseling & Development Center, Ratih Ibrahim menanggapi peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved