Minggu 28 Maret 2021, 08:39 WIB

Terdampak Pandemi, Industri Film Indonesia Harus Diselamatkan

Faustinus Nua | Hiburan
Terdampak Pandemi, Industri Film Indonesia Harus Diselamatkan

ANTARA/Aditya Pradana Putra
Sutradara Joko Anwar saat memenangkan Piala Citra 2020.

 

PANDEMI covid-19, yang melanda dunia, termasuk Indonesia, telah berdampak pada hampir semua sektor. Tidak terkecuali pada industri hiburan yakni dunia perfilman Tanah Air yang benar-benar mati suri selama masa krisis ini.

Pelaku industri perfilman Joko Anwar mengatakan industri perfilman merupakan sektor yang sangat terpukul akibat pandemi yang berlangsung selama lebih dari setahun.

Kebijakan penanganan penyebaran covid-19 membuat bioskop-bioskop harus ditutup. Padahal sekitar 90% pendapatan film berasal dari penjualan tiket bioskop tersebut.

Baca juga: Kepopuleran tidak hentikan Ihsan untuk Gali Potensi Diri

"Revenue dari sebuah film dalam fim Indonesia 90% masih dari bentuk pemasukan penjualan tiket di bioskop. Sementara, 10% lagi dari streaming platform, termasuk juga free to air seperti FTV dan lain-lain," ungkapnya dalam acara virtual 'NGOPI: Bersama Joko Anwar!' yang diselenggarakan Divisi Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga PPI Belanda, Sabtu (27/3) malam.

Direktur, produser, screenwriter, sekaligus actor itu menerangkan, meski ada sejumlah pelonggaran pembatasan, industri film belum mampu keluar dari peliknya masalah saat ini. Pelonggaran 50% kuota penonton di bioskop tidak berlaku di semua daerah di Indonesia.

Menurut Joko, menonton di bioskop sebenarnya jauh lebih aman dibandingkan dengan makan di restoran atau lainnya. Penerapan protokol kesehatan pun akan lebih efektif dilakukan di bioskop.

Namun, layaknya chicken and egg, baik produsen dan penonton sama-sama khawatir. Penonton masih takut untuk pergi ke bioskop, sedangkan produsen masih takut untuk merilis film mereka apabila pengunjung tidak sesuai harapan.

Lantas, para pelaku industri perfilman pun harus membanting setir untuk bisa survive. Kebanyakan dari mereka terpaksa berkecimpung di industri lain atau bisnis kecilan-kecilan.

"Cara adaptasinya kita beralih profesi jual makanan, jual jengkol, semur. Iya gitu awal-awal kita masih jual makanan gitu," kata dia.

Kondisi tersebut, lanjutnya, akan semakin memburuk bila tidak ada kebijakan dan perhatian terhadap industri yang berkontribusi besar pada ekonomi nasional. Indastri perfilman harus segera diselamatkan dan kembali ke masa jayanya.

Peraih Piala Citra untuk Sutradara Terbaik 2020 dan 2015 itu menjelaskan bahwa banyak orang yang mencari nafkah dari sektor industri tersebut.

Satu film yang diproduksi mampu menyerap ribuan pekerja. Bahkan untuk industri ini menyumbang sekitar Rp15 triliun pada 2019 di luar pajak penjualan tiket bioskop dan lainnya.

"Jadi layak untuk diselamatkan dan sekarang Presiden sedang membuat skema stimulus, sedang berkomunikasi dengan para pelaku industri film Indonesia untuk menciptakan skema stimulus yang bisa membantu industri perfilman bisa bangkit lagi," imbuhnya.

Sedang di Puncak Masa Keemasan

Joko mengisahkan, sebelum pandemi, industri perfilman Indonesia sedang berada di puncak masa keemasannya. Film Indonesia mendapat banyak perhatian baik dari penonton di dalam negeri maupun luar negeri.

Di dalam negeri, film Indonesia mendapat kepercayaan dari penonton, sentara di kancah internasional banyak orang yang ingin mengetahui film anak bangsa. Bahkan beberapa di antaranya mendapat penghargaan bergengsi dari festival-festival film global.

"Di dalam negeri kita mendapat kepercayaan penonton, di luar negeri film Indonesia mencuri perhatian banget. Kita mendapat perhatian, orang semakin ingin tahu film Indonesia," terangnya.

Secara ekonomi, Joko membeberkan bahwa, pada 2019, film Indonesia mampu menjual 51,7 juta tiket bioskop. Sementara, pada 2017 tiket yang terjual hanya mencapai 38 juta. Hal itu merupakan peningkatan besar dalam perkembangan dunia perfilman Indonesia.

Dari segi teknis dan estetika, film Indonesia sedang top of the game. SDM yang bekerja untuk industri tersebut dinilainya sangat paham terhadap keinginan penonton.

"Walaupun demikian kita masih sangat membutuhkan sumber daya manusia lebih banyak lagi. Karena ada 129 judul yang kita rilis pada 2019," jelasnya.

Selain itu, potensi untuk mendapat kepercayaan penonton masih sangat terbuka. Indonesia memiliki pendudukan lebih dari 270 juta jiwa. Masih belum sampai separuh total populasi yang menonton film di bioskop.

Joko pun menambahkan, sejauh ini, pihaknya tidak melihat platform streaming sebagai ancaman bagi industri perfilman. Justru hal itu membantu mendistribusi karya-karya film Anak Bangsa, meski bioskop sendiri posisinya belum tergantikan. Tidak hanya pengalaman sinematis yang disuguhkan bioskop tapi juga pengalaman sosial yang masih menjadi daya tarik.

Ancaman industri perfilman masih sama dan masih seperti sebelum-sebelumnya, yakni pembajakan. Belum adanya kebijakan yang tegas dan penegakan hukum yang bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku pembajakan. Begitu pula masih kurangnya edukasi terhadap masyarakat untuk lebih menghargai karya orisinil. (OL-1)

Baca Juga

Ist

Baim Wong Mengaku Sempat Cemas Saat Kiano Mau Disunat

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 21:24 WIB
Kenzo Eldrago Wong putra kedua Baim Wong sudah lebih dulu disunat beberapa hari setelah lahir. Kini, Kiano yang minta sendiri...
Ist

Raffi Ahmad Borong Air Mineral dengan Harga Promosi

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 20:25 WIB
Sejumlah artis termasuk Raffi Ahmad dan Nagita Slavina memborong produk air mineral dengan harga promosi di Pekan Raya Jakarta...
Instagram @donnaharunofficial

Donna Harun Gonta-Ganti Olahraga Agar tidak Bosan

👤Basuki Eka Purnama 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 11:30 WIB
Kadang dia melakukan yoga selama beberapa bulan, kemudian diganti dengan aerobik, lalu beberapa bulan berikutnya ia memilih untuk membakar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya