Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BELUM lebih dari sepekan fi lm Mariposa tayang di bioskop, tetapi fi lm terbaru besutan sutradara Fajar Bustomi, 37, itu sudah mendatangkan sekitar 700 ribu lebih penonton dan menempati posisi ketujuh fi lm terbanyak penonton pada 2020. Mariposa dirilis pada 12 Maret 2020 atau sepekan sebelum Pemprov DKI Jakarta menetapkan keadaan tanggap darurat terkait dengan virus korona, yaitu pada 20 Maret 2020.
Pemprov juga meminta sejumlah tempat hiburan, salah satunya bioskop untuk tutup sementara. "Mariposa saat itu sepertinya baru tiga hari tayang, lalu tiba-tiba ada pengumuman dari pemerintah untuk jaga jarak dan di rumah aja. Ya, kemudian kami mengikuti kebijakan dari bioskop yang ditutup," ungkap Fajar saat mengisi tayangan langsung di Instagram Indonesian Film Directors Club (IFDC), dalam sesi Directors One on One bersama Fajar Nugros, Senin (13/4). S e l a i n Mariposa, fi lm Fajar Bustomi yang tayang tahun ini ialah Milea: Suara dari Dilan, yang disutradarainya bersama penulis novel Pidi Baiq. Film yang beredar sejak 13 Februari 2020 itu pun berhasil mendatangkan 3 juta lebih penonton.
Fajar memang terbilang cukup sukses dalam menggarap seri Dilan, mulai Dilan 1990 (2018) yang hampir menyaingi raihan penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 garapan Anggy Umbara hingga Dilan 1991 (2019) dengan raihan 5 juta lebih penonton. Selama berkiprah di dunia fi lm, Fajar merasa bersyukur selalu dikelilingi dengan orang-orang berbakat dan berjiwa konstruktif mulai produser dan semua kru fi lm yang dipimpinnya. "Promosi dan gimik produser sangat berpengaruh pada kesuksesan fi lm," ungkapnya.
Sutradara jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu menganggap, kesuksesan fi lm-fi lmnya itu karena dukungan banyak faktor. Dilan 1990, misalnya, yang sudah tenar lebih dulu karena diadaptasi dari novel yang best seller karya Pidi Baiq. "Film sukses pasti banyak faktor. Nah, bagaimana faktor itu, satu harus positif. Enggak boleh jahat sama orang. Bikin fi lm yang bagus. Bagus itu kan relatif, minimal menurut lo sendiri dulu." Alami disleksia Dengan disleksia yang dimilikinya, laki-laki kelahiran Jakarta, 6 Juli 1982, itu tidak menyangka kariernya bakal menetap di jalur fi lm. Disleksia merupakan gangguan dalam proses belajar, ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Fajar baru menyadari bahwa dirinya menderita disleksia saat kuliah dari dosennya, Nan Achnas yang dikenal sebagai sutradara Pasir Berbisik. Padahal, gejalanya sudah dirasakan sejak ia sekolah dasar (SD). "Dulu gue sangat malu untuk bilang kalau gue disleksia. Untuk menyelesaikan buku, gue butuh bermingguminggu hingga berbulan-bulan. Kalau baca, tulisannya kayak matrix, pecah-pecah bikin pusing."
Diakuinya, kondisi itu membuatnya pernah tidak lulus ujian saat harus mengambil penjurusan sutradara. Fajar hanya mendapat nilai C+ akibat saat diminta menjawab pertanyaan dari dosen, tulisannya tidak bisa dibaca. Ia pun harus mengulang mata kuliah tersebut. Dari dosennya, Nan Achnas, Fajar diberi tahu disleksia yang dideritanya mirip seperti yang dialami aktor Hollywood, Tom Cruise. Dari sebuah riset diketahui, anak-anak penyandang disleksia memiliki tingkat kecerdasan normal, atau bahkan di atas rata-rata. "Ternyata ada orang hebat yang juga mengalami itu. Kemudian, mulai cari tahu bagaimana Tom Cruise dalam membaca skenario. Situasi itu justru semakin menyemangati gue untuk menjadi orang yang sukses," tuturnya. Sampai sekarang, saat membaca buku, Fajar harus mengulangnya beberapa kali, demikian juga saat membaca skrip fi lm. "Sampai hapal dengan skripnya, dan bisa tahu dialog itu ada di halaman berapa, tanpa harus membawa sontekan," pungkasnya. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved