Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
EMPAT puluh tahun berkiprah di dunia musik, Abid Ghofar atau yang lebih dikenal dengan sapaan Ebiet G Ade, 64, kembali hadir bersama sang anak Aderaprabu Lantip Trengginas dalam lagunya berjudul Untuk Kita Renungkan.
Menurutnya, kolaborasi itu ialah hasil dari obrolan ayah dan anak yang lumayan lama dan penantian sekaligus menjadi ajang pembuktian keduanya. "Ia telah membuktikan kepada masyarakat pop Indonesia bahwa dia layak menjadi penyanyi tanpa bawa ayah, tanpa nama 'Ebiet Junior'," ungkap Ebiet di Jakarta Selatan, pekan lalu.
Ebiet menilai 8 tahun kiprah sang anak di dunia musik pun telah berhasil membuatnya bangga, meskipun sebelumnya Ebiet tidak pernah melarang maupun mendorongnya untuk menjadi seorang penyanyi.
"Saya selalu menyarankan untuk bisa melakukan hal apa pun selain musik. Namun, ternyata tidak bisa. Dia bisa nyanyi dan milih jalan ini," ungkap laki-laki kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954, itu.
Ia mengaku jarang sekali berkolaborasi dengan musikus lain karena sebuah alasan. "Saya orang yang sulit diajak bekerja sama. Mungkin karena karakter saya yang kuat," ucapnya.
Karena itulah, Ebiet menganggap kolaborasi ini istimewa karena dikemas secara humanis dengan suara khas balada dirinya dan merdunya suara Adera. "Kolaborasi saya dengan Adera adalah kolaborasi yang humanis. Ayah ajak anak menyanyi atau anak ajak ayah bernyanyi. Ini lagu saya yang mengajak kebaikan," ujar pelantun Kupu-Kupu Kertas (1995) itu.
Lagu Untuk Kita Renungkan lahir setelah peristiwa letusan Gunung Galunggung pada 1982. Sebagian besar lagu Ebiet memang terinspirasi dari peristiwa alam.
Jika biasanya lagu Untuk Kita Renungkan diputar saat terjadinya peristiwa bencana alam, kali ini Ebiet membawa pesan baru lewat versi teranyar hasil kolaborasinya dengan sang anak.
"Lewat lagu ini, saya mengajak generasi muda untuk membuat suasana damai menjelang pemilihan umum presiden (pilpres)," imbuhnya.
Lirik lagu Untuk Kita Renungkan mengajak seseorang untuk berkaca dan merenungkan perilakunya agar tidak menimbulkan sesuatu yang disebut bencana. Di zaman now, 'bencana' itu hadir dalam wajah baru berupa hoaks atau kabar bohong. "Supaya jadi cerminan untuk tidak menyebarkan hoaks dan berdamai tanpa bersikutan," kata Ebiet.
Menunggu 8 tahun
Meski sudah 8 tahun kiprahnya di blantika musik Indonesia, Adera mengaku lagu Untuk Kita Renungkan ialah kolaborasi teristimewanya.
"37 tahun umur dari lagu Untuk Kita Renungkan milik papa dan tahun ini kembali dilahirkan dengan aransemen baru," ujarnya dalam akun Instagram pribadinya @adera_ega, Selasa (9/4).
Sebagai solois juga, Adera merasa senang dapat berkolaborasi dengan ayahnya. Kesempatan itu sudah ditunggunya sejak 8 tahun lalu saat ia memulai kariernya sebagai musikus.
"Ini penantian. Selama 8 tahun saya tidak ingin mencampuradukkan nama papa. Akhirnya, kemarin ada kesempatan dari semua pihak setuju," ungkap anak kedua dari empat bersaudara itu.
Adera dilahirkan di Jakarta, 6 Januari 1986. Bermodal vokalnya yang merdu, ia mengawali debutnya sebagai penyanyi lewat single Lebih Indah (2011). Lagu itu bercerita tentang titik balik dalam perjalanan hidup manusia.
Saat itu lagu-lagunya sering didengarkan lewat radio, bahkan warna musiknya yang sedikit jaz pun melejit dan jarang dikait-kaitkan dengan ayahnya yang jelas memiliki perbedaan dalam bermusik.
Hal itu pulalah yang membuat namanya diperhitungkan sebagai solois berbakat. Terbukti di single kedua yang berjudul Terlambat, Adera dengan cepat merajai top chart radio–radio di Indonesia. (H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved