Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Alim Sudio Jadilah Pemilih Cerdas

Tosiani
05/4/2019 00:45
 Alim Sudio Jadilah Pemilih Cerdas
Alim Sudio(Dok Pribadi)

PENULIS skenario film Buya HAMKA, Alim Sudio, 45, menilai Pemilu Presiden tahun 2019 ini berlangsung lebih sehat. Pasalnya, kedua calon presiden telah menyampaikan gagasan mereka dalam serangkaian debat terbuka.

"Kalau melihat pilpres sekarang ya seru, artinya keterbukaan dalam proses menyosialisasikan visi misi ke masyarakat sekarang ini lebih terbuka dan masyarakat bisa ikut menilai secara langsung pandangan mereka," ujar laki-laki yang akrab disapa Apank itu di Jakarta, pekan lalu.

Keterbukaan dalam perhelatan akbar Pilpres kali ini dinilainya tidak tercipta begitu saja. Ada upaya-upaya konstruktif yang berusaha mendorong masyarakat menjadi pemilih yang cerdas dan terbuka. Meskipun, pada akhirnya semua akan dikembalikan lagi pada masyarakat.
"Tergantung kita sebagai pemilih untuk benar-benar aktif mencari tahu, mempelajari, kemudian secara objektif bisa melakukan pemilihan yang tepat sesuai dengan apa yang kita inginkan," ucapnya.

Ia menilai, saat ini merupakan momentum tepat bagi para pemilih, terutama pemilih baru untuk mempelajari dan menimbang apa yang ditawarkan para capres. Pemilih yang cerdas, tegasnya, harus tahu apa yang akan dipilihnya. Bukan memilih berdasarkan emosional semata.

"Saya setuju banget kalau menjadi pemilih yang cerdas tahu apa yang mereka pilih. Enggak asal pilih berdasarkan emosional doang. Tapi yakin terhadap calon pemimpin yang akan mereka pilih itu," bebernya.

Pemilih yang cerdas, lanjut Apank, juga harus bijak menggunakan media sosial serta bisa memilah berita yang tersebar melalui media sosial. Menurutnya, pemilih cerdas harus bisa membedakan mana kabar hoaks dan mana kabar provokatif.

Ia pun mengimbau, agar masyarakat meninggalkan mental ikut-ikutan, tidak mau tahu, dan tidak perduli. Karena itu, Apank mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu 17 April 2019.

"Jangan sampai golput. Karena itu adalah hak istimewa," ujar penulis skenario film Surga yang tak Dirindukan itu.

Memilih calon terbaik sesuai ketetapan hati merupakan bentuk lain dari kemerdekaan. Tidak menggunakan hak pilih sama saja menyia-nyiakan 'kemerdekaan' itu.

Sosok HAMKA
Soal keterbukaan, Apank langsung teringat sosok Buya HAMKA, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama yang akan difilmkan. Tiga tahun mempelajari sosok Buya HAMKA untuk keperluan film memang meninggalkan kesan mendalam baginya.
"Saya melihat sosok HAMKA itu amat sangat objektif, memiliki pandangan yang amat sangat terbuka," ujar Apank.

Buya HAMKA yang memiliki nama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat. Publik mengenal HAMKA sebagai ulama, sastrawan, wartawan, budayawan, dan politikus.

Sebagai tokoh agama, kata Apank, Buya HAMKA tidak mengajarkan fanatisme sempit. Selama hidupnya, Buya HAMKA justru mengajarkan untuk bisa melihat perbedaan, serta bisa melihat keyakinan yang berbeda dari sudut pandang kemanusiaan.

"Fanatik terhadap agama memang harus ada. Akan tetapi, fanatisme itu harus diiringi sikap toleransi," pungkasnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya