Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
AKHIR September ini dunia perfilman Indonesia akan semakin ramai dengan kehadiran film Aruna dan Lidahnya. Film ini akan memperkaya referensi kita tentang pertemanan, percintaan, dan tentunya kuliner-kuliner khas Indonesia.
Sang Sutradara, Edwin, menceritakan Aruna dan Lidahnya diadaptasi dari novel Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama. Ada empat tokoh sentral yang bermain dalam film yang rencananya berdurasi sekitar 1 jam 45 menit, yaitu Dian Sastrowardoyo sebagai Aruna, Oka Antara sebagai Farish, Hannah Al Rashid sebagai Nad, dan Nicholas Saputra sebagai Bono. Semuanya memiliki latar belakang yang berbeda, ahli wabah yang bekerja di LSM, dokter hewan di institusi pemerintah, kritikus makanan, dan koki.
"Film ini menceritakan tentang dinamika hubungan manusia, seperti pertemanan, pekerjaan, dan percintaan. Lewat makanan bisa mengungkap hal-hal yang tidak terucapkan," kata Edwin saat berkunjung ke Media Indonesia, Rabu (10/7) pagi.
Tidak semata kuliner, berbagai tema-tema percakapan tersaji secara apik dan menarik untuk direnungkan, mulai kehidupan, konspirasi, hingga flu burung. Meski berdasarkan novel, ada beberapa perubahan dilakukan untuk unsur dramatisasi dalam film.
"Karena keterbatasan durasi, ada proses kreatif adaptasi (dalam pembuatan film). Film ini masih setia pada cerita novel, tetapi ada bumbu-bumbu lain yang ditambahkan supaya pas dengan medium," kata dia.
Salah satunya ialah mengurangi jumlah kota, dari 10 menjadi 5, yaitu Surabaya, Pamekasan, Pontianak, Singkawang, dan Jakarta.
Edwin mengatakan, film ini sengaja memilih kuliner-kuliner khas Indonesia yang masih jarang diketahui secara umum, dari rawon, sup buntut, soto lamongan, kacang kuah, lurjuk, bakmi kepiting, hingga pengkang.
Nicholas Saputra menambahkan, ada makna yang lebih dalam dari makanan-makanan yang ditampilkan dalam film. Makanan-makanan tersebut memiliki kaitan dengan karakter-karakter yang ada dan berhubungan dengan alur cerita.
Nicholas mengaku menikmati proses penggarapan film ini karena mengunjungi tempat-tempat yang menarik dengan kuliner yang beraneka ragam. Senada dengan Nicholas, Hanna menjadi kenal kuliner daerah lain. Dari sekian makanan yang dirasakannya, bakmi kepiting di Pontianak menjadi favoritnya.
Aruna dan Lidahnya merupakan film kedua yang diproduksi oleh Palari Films. Film pertama mereka berjudul Posesif yang meraih beberapa penghargaan dalam FFI 2017.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved