Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH beberapa bulan perdebatan seru di kalangan para pecintanya, Mei ini, satu lagi prekuel Star Wars kembali dirilis. Ini bisa jadi hadiah mewah bagi mereka. Baru berselang sebentar dari Rouge One (2016) yang mendulang kesuksesan senilai US$1,056 miliar, prekuel kisah epik yang pertama lahir pada 1977 itu sudah hadir lagi.
Solo: A Star Wars Story bakal tayang perdana besok di beberapa kota di dunia, termasuk di Indonesia. Dari judulnya, Han Solo--tentu salah protagonis Star Wars, yang akan jadi tokoh utama di dalamnya.
Ini adalah sosok Solo yang termuda yang pernah ditampilkan dalam film, ketimbang versi dewasa yang diperankan Harrison Ford.
Dalam prekuel kali ini, Solo yang ditampilkan dalam usia remaja akhir, besar di jalanan yang 'bronx' di Correllia. Solo yang cerdik tapi konyol ini diperankan Alden Ehrenreich.
Aktor yang berhasil mencuri perhatian kritikus film itu mulai dikenal lewat Blue Jasmine, Hail, Caesar!, dan Rules Don't Apply
Menurut produser Solo, Kathleen Kennedy, Alden dipilih karena dia bisa dengan cepat membangkitkan emosi dan membuat karakter Han Solo terasa spesial tanpa perlu meniru Harrison.
"Dia cepat menangkap esensi dari Solo, jiwa eksentriknya. Dia juga lucu dan menyenangkan. Tidak cuma memiliki semua kualitas itu, Alden juga bisa menyembunyikan kelemahan Han," ungkap Kathleen.
Solo sebenarnya merupakan proyek pertama yang disebut George Lucas--penulis skenario pencipta Star Wars, ketika ia mencetuskan ide pembuatan stand-alone film tersebut. Detail tentang background story Han memang sudah lama dinanti-nantikan Star Wars fans, terutama mereka yang fanatik.
Perdebatan seru muncul karena versi Han Solo muda yang hadir di Solo: A Star Wars Story berbeda dengan yang pernah beredar dari mulut ke mulut di kalangan fans Star Wars. Sosok Solo muda sebagai cameo sebenarnya sempat akan dimunculkan dalam Star Wars: Episode III-Revenge of the Sith (2005).
Dalam subplot yang dipotong dari skenario asli George Lucas itu, Solo cilik sempat akan ditampilkan sebagai yatim piatu yang kemudian diasuh oleh Chewbacca di Kashyyyk.
Solo juga yang menemukan transmitter dari droid yang hancur dalam pertempuran di Kashyyyk, dan nantinya ia pula yang akan menyerahkannya kepada Yoda. Versi dalam adegan yang akhirnya dipotong ini juga jauh berbeda dari sosok Han dalam buku Star Wars asli karangan Ann C Crispin pada 1997-1998.
Mari kita lupakan saja versi--yang untungnya tidak pernah jadi tayang--itu. Karena, meski Solo digambarkan menjadi sosok yang heroik dan cerdik di usia yang masih sangat kecil, versi yang satu itu tetaplah sangat aneh. Terutama bagian dia dibesarkan oleh Chewbacca. Jika adegan Solo versi itu tidak dibuang, tentu versi cerita masa lalu Solo dalam prekuel kali ini tidak logis untuk hadir.
Dalam skenario Solo: A Star Wars Story yang ditulis Lawrence Kasdan dan Jonathan Kasdan itu, sejumlah pertemuan penting dalam masa Solo ditampilkan. Salah satu yang mungkin mencuri perhatian penonton ialah sosok Qi'ra yang merupakan cinta pertama Han.
Sosok-sosok lain yang sudah kita kenal lewat film Star Wars lain juga muncul--menjelaskan bagaimana pertemuan, kepercayaan, kesetiaan, dan penghianatan antara mereka dan Han itu akhirnya membentuk dia menjadi karakter ikonik yang telah lama dikenal di seluruh dunia.
Bagi Lawrence, Han adalah karakter favoritnya. "Dia tidak dapat diprediksi, suka semuanya dan kadang konyol. Dia sering mengatakan hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan selalu mencampuri urusan orang lain. Buat saya karakterbya menarik karena walaupun selalu membuat masalah, ia sebenarnya memiliki hati yang baik," ujarnya mendeskripsikan Han Solo.
Sutradara Ron Howard mengatakan ini akan menjadi stand-alone pertama dari karakter dalam Star Wars. Tapi alih-alih membangun perasaan nostalgia, Ron lebih ingin film ini dapat dinikmati penonton muda. Meski demikian, warna dan estetika khas Star Wars tetap tidak boleh ditinggalkan.
"Akan dibawakan dengan nuansa penuh aksi. Film ini akan merefleksikan suasana sana dengan Star Wars sebelumnya, dengan kombinasi humor, aksi spektakuler, gambaran dunia yang menarik, menghibur, serta cerdas," papar Ron.
Satu-satunya Femme Fatale
Peran utama wanita dalam Solo: A Star Wars Story ini memang karakter baru dalam Star Wars. Jika selama ini kita cuma tahu Han Solo jatuh cinta pada Princess Leia, menikah dan punya anak dengannya, kali ini muncul sosok perempuan lain. Ialah Qi'ra, perempuan yang besar bersama Han di Correllia.
Diperankan oleh Emilia Clarke yang naik daun lewat serial Game of Thrones, sosok Qi'ra muncul sebagai karakter kuat yang tidak bisa ditebak. Awal kemunculannya bagai just-another-teenage-sweetheart yang tahu betul Han dengan impian terbesarnya sebagai pilot handal.
Namun, sosok misterius Qi'ra akhirnya mengalir, membentuk gambaran seorang femme fatale yang cerdik, kalau tidak mau dibilang licik. Banyak juga yang tidak diungkap tentang sosoknya, selama jeda waktu ia terpisah dengan Han.
Sama seperti Han, penonton juga hanya bisa menebak-nebak apa yang membentuk Qi'ra menjadi karakter semacam itu. Yang pasti, dalam rangkaian sekuel maupun prekuel Star Wars, tampaknya ini adalah satu-satunya karakter femme fatale yang pernah ada.
Selain Qi'ra, film ini juga menampilkan karakter yang sudah dikenal lama dalam Star Wars seperti Chewbacca--kembali diperankan Joonas Suotamo, serta Lando Calrissian--si penjudi ulung yang diperankan Donald Glover. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved