Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Wakil Indonesia di Miss Grand International 2017, Dea Goesti Bawa Pesan Perdamaian

Dhika Kusuma Winata
29/9/2017 07:55
Wakil Indonesia di Miss Grand International 2017, Dea Goesti  Bawa Pesan Perdamaian
(Dea Goesti Rizkita memeragakan Kostum Nasional rancangan Morpachio Body Art dan desainer Maya Ratih Couture yang bertema "Ibu Pertiwi"---ANTARA/Bernadeta Victoria)

PUTRI Indonesia Perdamaian 2017, Dea Goesti Rizkita, 25, bakal menjadi wakil Indonesia di ajang Miss Grand International 2017 yang diselenggarakan di Phu Quoc Island, Vietnam, 7 Oktober. Dalam kontes tersebut, ia bakal membawa pesan perdamaian bagi dunia.

Menurut runner-up 3 Putri Indonesia 2017 itu, dunia saat ini mengalami krisis cinta dan tole­ransi. Terbukti, sambung Dea, banyak konflik dan kekerasan terjadi di berbagai belah­an dunia. “Kita lupa cara saling menghargai, menghormati, dan bertoleransi. Saya kira segala macam masalah di dunia kuncinya ialah toleransi,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Mahasiswi magister psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang itu menilai kekerasan memang sulit dihilangkan. Namun, dirinya berkeyakinan masyarakat bisa didorong untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa melalui penanaman nilai-nilai perdamaian dan toleransi.

“Miss Grand International mengangkat isu stop the war and violence untuk gerakan save one generation. Yang disebut generasi kertas putih, yakni generasi yang belum tahu apa-apa. Mereka perlu diselamatkan,” tambahnya.

Di Indonesia, ia menyebutkan, masalah intole­ransi dan radikalisme masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat. Langkah pencegahan penting untuk menghindarkan negeri ini dari kekerasan.

Pencegahan itu, lanjutnya, perlu dilakukan dengan menularkan keteladanan tentang saling menghargai dan menghormati. Keteladanan itu, kata Dea, bisa datang dari setiap individu. “Kita tidak bisa menuntut orang lain. Jangan minta untuk dimengerti dulu kalau belum mau mengerti orang lain,” tegasnya.

Dirinya menceritakan pengalamannya berkunjung ke Maluku beberapa waktu lalu. Ia mengaku mendapat banyak pelajaran tentang cara menciptakan perdamaian. “Daerah itu salah satu wilayah konflik pada 1999. Namun, mereka di sana sudah melakukan trauma healing sehingga antarumat beragama sekarang bisa hidup berdampingan, padahal dulu saling membunuh. Toleransi memang bisa menjadi solusi,” tuturnya.

|Percaya diri
Terkait dengan persiapannya ke ajang Miss Grand International 2017, Dea menuturkan sudah mempersiapkan banyak hal dengan dukungan Yayasan Putri Indonesia dan Mustika Ratu, seperti mengikuti kelas bahasa Inggris dan kelas kepribadian.

“Persiapannya sudah 99%. Tinggal 1% memantapkan hati dan berdoa agar bisa direstui semua rakyat Indonesia,” katanya.

Dirinya rutin berolahraga 3-4 kali dalam se­minggu untuk mempersiapkan fisik, juga rajin minum jamu beras kencur untuk kesehatan kulit.

Salah satu gaun yang akan dikenakan Dea ialah gaun nasional bertajuk Ibu Pertiwi. Gaun megah rancangan Morpachio dan Maya Ratih itu berbobot 40 kg. “Sebenarnya gaun ini lebih besar filosofinya ketimbang bobotnya. Saya bukan hanya mewakili nama pribadi, keluarga, Yayasan Putri Indonesia, dan Mustika Ratu, melainkan juga mewakili negara. Tanggung jawab ini amat luar biasa,” pungkasnya.

Pada kesempatan sama, pendiri Mustika Ratu, Mooryati Soedibyo, menilai Dea sosok yang tepat untuk mewakili Indonesia. “Dia penuh percaya diri. Saya bangga Indonesia bisa menampilkan putri Jawa untuk berkompetisi di ajang dunia,” ucapnya. (Dhk/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya