Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Livi Zheng Dokumentasikan Bali dan Blitar

Thomas Harming Suwarta
22/8/2017 08:10
Livi Zheng Dokumentasikan Bali dan Blitar
(DOK MI/ATET DWI PRAMADIA)

LIVI Zheng, sutradara Indonesia yang kini menetap di Los Angeles, Amerika Serikat, hadir dalam Kongres Diaspora di Jakarta, kemarin. Dia berbagi pengalaman sebagai seorang diaspora.

Gadis kelahiran Blitar, Jawa Timur, 3 April 1989 tersebut mengaku bangga bisa berkiprah di dunia perfilman internasional dan bersamaan dengan itu menjadi kesempatan dia mengenalkan Indonesia ke dunia internasional.

“Sebagai seorang seniman film tentu itulah yang menjadi persembahan saya bagi Indonesia, yaitu mengenalkan Indonesia dengan segala kekayaan budayanya kepada dunia internasional,” kata Livi saat ditemui di sela-sela Kongres Diaspora di Luwansa Hotel, Kuningan, Jakarta.

Kesempatan itu dipakai juga oleh Livi yang juga menjadi dosen tamu di 20 universitas di seluruh dunia tersebut untuk mengenalkan film terbarunya berjudul Bali: Beats of Paradise, yang rencananya akan diluncurkan di Amerika Serikat pada Maret 2018. “Melalui film ini tentu kami ingin mengenalkan Indonesia ke publik internasional. Secara khusus yang kami eksplorasi di sini adalah seni gamelan Bali dan tarian-tarian magis seperti Tari Jauk, Tari Barong, dan Tari Rangda,” kata Livi.

Film dokumenter itu juga, ia menjelaskan, mengangkat adegan musik gamelan yang mengiringi pejalan kaki massal di Pantai Lembeng, Gianyar, Bali. Gamelan sendiri, kata dia, sudah pernah dikenalkan dalam film Hollywood seperti Avatar yang diproduksi James Cameron.

“Nah, ini kita angkat lebih diperkaya lagi,” sambung Livi yang memulai debut penyutradaraannya melalui film Brush with Danger yang sempat masuk seleksi nominasi Piala Oscar.

Film Bali: Beats of Paradise, lanjut Livi, digagasnya bersama Umar Hadi, mantan Konjen RI di Los Angeles yang kini menjadi duta besar di Korea Selatan. “Tentu ini akan jadi proyek yang sangat berharga, apalagi beberapa kru kita dari Amerika kemudian mengalami langsung khazanah budaya kita. Tentu akan jadi pengalaman berharga,” tukas peraih penghargaan piala bela diri wushu sebanyak 26 kali di AS tersebut.

Kerja sama dengan Blitar
Kesempatan ke Indonesia kali ini juga dipakai Livi untuk memproduksi beberapa film lain terkait dengan Kabupaten Blitar yang banyak memiliki spot bersejarah yang merupakan hasil kolaborasi dengan pemerintah setempat. Seperti diketahui Blitar ialah tempat bersemayamnya Raja Anusapati, Raja Raden Wijaya, dan tentu juga proklamator RI Bung Karno. “Indonesia, bagaimanapun, sangat kaya dan karena itu, harus kita angkat seperti dalam film atau sarana lainnya,” ungkap Livi yang meraih penghargaan Diaspora Creative Award pada 2015.

Passion-nya di dunia film memang tidak perlu diragukan lagi. Seusai proyek film Bali: Beats of Paradise, ia bakal mengerjakan film berjudul Life is Full of Surprises dan Second Chance. “Soal detailnya kita masih rahasiakan, ya, untuk kesempatan berikut,” katanya sambil berharap agar dunia perfilman di Tanah Air bisa maju, yaitu dengan mendirikan bioskop minimal satu di tiap kabupaten seluruh Indonesia. “Karena kalau bioskop tersedia cukup banyak, industri film akan terpacu untuk memproduksi lebih banyak lagi film,” tutup Livi. (H-5)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya