Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

23/11/2014 18:00

Di Balik Wajah Wayang Topeng Malang

SORE itu di Dukuh Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Malang, sejumlah penari membusungkan dada, merentang tangan ke atas, lalu menghentakkan kaki mereka keras-keras. Jemari mereka meliuk-liuk, sedangkan kepala mereka bergerak lincah, sesuai dengan topeng yang dikenakan.

Ada yang menjadi lelaki berkumis dengan senyum lebar.Ada yang beraut hijau dengan senyum genit dikulum ataupun menjadi si biru dengan mata membelalak dan seringai mengerikan.

Agustus itu adalah salah satu pementasan tari Wayang Topeng Malang oleh para penari Sanggar Asmoro Bangun. Pesan kelincahan, keanggunan, kesombongan bahkan keangkuhan dari tarian itu adalah warisan yang telah diajarkan dari generasi ke generasi.

Namun, di balik topeng-topeng penuh warna dan detail itu, sesungguhnya ada kisah baru. Inilah kisah yang diperjuangkan Tri Handoyo, pengelola Sanggar Asmoro Bangun.

Tri adalah generasi ketiga pemilik sanggar tersebut. Sang kakek, Mbah Karimun adalah pendiri sekaligus maestro tari Wayang Topeng Malang.

Tri yang awalnya tidak tertarik pada seni itu kini menjalani hari-harinya dengan perjuangan agar seni topeng yang dimulai di masa kolonial itu terus bertahan.

Setiap minggu, ia melatih puluhan bocah menari. Dua kali seminggu pria ramah ini juga menggelar latihan karawitan. Semuanya secara gratis. Begitu pula dengan pementasan. Jika ada dana dari penonton, itu didapat dengan sukarela.

Baginya cara ini harus dilakukan agar anak muda mau mengenal tarian indah itu. Untuk biaya operasional sanggar, Tri memilih menjual topeng sebagai cendera mata.Dahulu, ayah Tri, Taslan juga membuat topeng dalam bentuk gantungan kunci dan hiasan. Kini Tri menggandeng enam warga setempat untuk proses produksi topeng.

Selain dijual kepada orang-orang yang berkunjung ke padepokan, topeng itu juga dijual keluar daerah hingga mancanegara. Bagi warga yang ingin belajar membuat topeng, Tri bersedia mengajari secara gratis. Adapun pengunjung dari luar daerah dikenai tarif.

Di musim liburan sekolah, Padepokan Asmoro Bangun juga banyak didatangi siswa dari luar kota, seperti Surabaya dan Jakarta, untuk belajar menari dan membuat topeng.

Semangat anak-anak muda inilah yang membawa senyum di wajah Tri. Tari topengnya kini bukan hanya punya harapan untuk bertahan, tetapi juga bersaing di tengah seni modern.  (Hr)
Baca Juga