UNGKAPAN tangan di atas lebih baik daripada yang di bawah amat dipegang teguh oleh Libbie Combee.
Kepeduliannya terhadap sesama diwujudkan perempuan yang memiliki kisah kelam sebagai pecandu narkoba itu dengan membuka sebuah restoran unik bernama Mosaic's Community Cafe.
Combee tidak menawarkan menu khas atau dekorasi ruangan yang membuat mata terpana di restoran yang berlokasi di wilayah Bartow, Florida, Amerika Serikat itu.
Ia memberi keleluasaan kepada para pelanggannya untuk membayar menu sesuai kemampuan mereka.
Bahkan ketika tidak punya uang, konsumen bisa membayar dengan bekerja sebagai relawan di restoran selama beberapa jam.
"Hidup dengan memberi lebih baik daripada menerima membuat saya merasa jauh lebih baik," ujar Combee seperti dilansir Dailymail.com, Rabu (4/11).
Anda tentu penasaran seperti apa menu yang ditawarkan Combee.
Nyatanya beragam roti lapis (sandwich) atau chicken rotisserie menjadi menu favorit pelanggan.
Agar tidak muzabir, pelanggan diminta memilih makanan sesuai dengan kapasitas perut mereka.
Kesempatan makan gratis juga diberikan kepada mereka yang bekerja sukarela di pusat rehabilitasi pecandu narkoba.
Keringat mereka akan ditandai satu kali kupon makan tersebut.
"Rasanya ada suatu kelegaan ketika mampu berkontribusi pada kehidupan seseorang yang tengah kesusahan," ujar Combee yang juga menjadi sukarelawan di pusat rehabilitasi itu.
Aksi solidaritas berbagi makanan bagi ribuan tunawisma dan keluarga miskin itu ramai diperbincangkan setelah muncul dalam sebuah postingan yang dimuat media sosial Facebook.
Itu menambah populer restoran yang semula bernama Florida Caf itu.
Dia berpendapat suasana restoran yang demikian diibaratkan sebagai mozaik yang indah, kumpulan dari rasa kasih sayang terhadap orang yang membutuhkan pertolongan.
Lebih jauh Combee menuturkan kafe yang menjadikan kafe milik penyanyi Bon Jovi, JBJ Cafe, sebagai inspirasinya itu, diharapkan dapat bermanfaat bagi kepentingan orang banyak.
"Mossaic Community Caf tidak hanya sekadar memungkinkan masyarakat berpenghasilan rendah atau tunawisma untuk menyantap makanan layak. Di sini kami juga ingin menggungah masyarakat untuk membantu sesama."
Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat, tercatat sebanyak 17,4 juta rumah tangga yang rawan pangan selama priode 2014.
Di samping semakin banyaknya penduduk yang kehilangan pekerjaan, hal itu juga karena meningkatnya jumlah usia lanjut yang tidak memiliki jaminan hari tua.
"Bukan sekadar sebagai penghilang rasa lapar, ini juga saluran berkat bagi orang lain yang ingin berkontribusi lebih bagi sesama," tandasnya.