PELABUHAN umum Cikarang Dry Port (CDP) dianggap dapat menjadi salah satu penyelesaian masalah dwelling time yang berlarut-larut. Deputi II Bidang Jasa dan SDA Kemenko Maritim Agung Kuswandono mengklaim, melalui pelabuhan di kawasan Jababeka itu, waktu tunggu dari mulai bongkar muat hingga keluar pelabuhan bisa dipangkas menjadi satu hari saja.
CDP merupakan pelabuhan dan pusat logistik terintegrasi yang terdiri dari tempat penimbunan sementara, penimbunan berikat, serta pusat konsolidasi ekspor. Dari 200 hektare (ha) luas lahan keseluruhan, 70 ha di antaranya dialokasikan untuk pelabuhan dan terminal. Sisanya untuk kawasan pergudangan modern.
Kapasitas CDP sekitar 400 ribu twenty-foot equivalent unit (teu) per tahun. "Total dari produk impor yang masuk ke sini sekarang sekitar 50 ribu teu per tahun. Kami mau perbesar lagi kapasitas daya tampungnya menjadi 600 ribu," jelas Kepala Kantor KPPBC Cikarang, Djanurindro Wibowo, di Cikarang, Jawa Barat.
CDP dilengkapi fasilitas pusat logistik berikat untuk penimbunan kapas impor yang bakal diperluas menjadi 10 kali lipat. Dengan demikian, itu bisa menampung kapas impor yang selama ini mesti diparkir di Malaysia dan Singapura.
Namun, menurut Agung, semua fasilitas menjadi kurang efektif karena belum ada layanan kereta dari Pelabuhan Tanjung Priok. Jika menggunakan truk, proses ekspedisi dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju CDP saja memakan waktu hingga 12 jam.
Proses pembangunan jalur kereta tersebut sudah melewati tahap pembebasan lahan. PT KAI menargetkan akan merampungkan proyek tersebut pada Februari tahun depan. "Tapi kami tetap minta akhir Desember ini sudah selesai. Setidaknya ada satu jalur bisa tembus," imbuh Agung di kesempatan yang sama.(Wan/E-1)