Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Strategi Alokasi THR agar Keuangan Tetap Stabil Usai Lebaran

Heryadi
03/3/2026 12:00
Strategi Alokasi THR agar Keuangan Tetap Stabil Usai Lebaran
Nasabah Sun Life Syariah.(Dok.Sun Life Syariah)

TUNJANGAN Hari Raya (THR) menjadi momen yang dinanti banyak pekerja menjelang Idulfitri. Tambahan pemasukan di luar gaji rutin itu kerap langsung dialokasikan untuk beragam kebutuhan, mulai dari membeli pakaian baru, mengirim hampers, mudik, hingga berbagi dengan keluarga.

Namun, tidak sedikit yang mengeluhkan THR cepat habis setelah Lebaran. Kondisi tersebut umumnya disebabkan tidak adanya perencanaan sejak awal. Padahal, jika dikelola dengan tepat, THR dapat menjadi peluang memperkuat kondisi keuangan keluarga.

Perencana keuangan menyarankan agar THR dibagi dalam beberapa pos prioritas agar pengeluaran tetap terkendali dan kondisi finansial tetap sehat setelah hari raya.

Pertama, alokasikan 10–15 persen untuk kewajiban dan berbagi. Pos ini mencakup zakat fitrah yang rata-rata setara Rp50.000 per jiwa, sedekah, serta bantuan kepada keluarga. “Menyisihkan dana untuk kewajiban agama di awal membantu kita lebih disiplin dan tidak menggunakan seluruh THR untuk konsumsi,” ujar seorang perencana keuangan, Selasa (3/3).

Kedua, gunakan 10–20 persen untuk melunasi utang dan cicilan. Paylater dan kartu kredit sering kali terasa ringan setiap bulan, tetapi dapat menumpuk tanpa disadari. Dengan mengurangi beban tersebut menggunakan THR, kondisi keuangan setelah Lebaran menjadi lebih longgar. “Mengurangi utang konsumtif lebih dulu akan membuat arus kas bulanan setelah Lebaran jauh lebih sehat,” katanya.

Ketiga, alokasikan 40–50 persen untuk kebutuhan Lebaran. Pos ini mencakup biaya mudik, konsumsi, angpao, hingga pakaian baru. Meski Lebaran identik dengan perayaan dan kebersamaan, pembatasan anggaran tetap diperlukan agar pengeluaran tidak melampaui kemampuan. “Buat daftar kebutuhan dan tetapkan batas maksimal belanja agar tidak impulsif,” ujarnya.

Keempat, sisihkan 10–20 persen untuk dana darurat dan tabungan. Dana ini dapat ditempatkan pada instrumen likuid seperti tabungan syariah, emas, atau reksa dana pasar uang syariah. Dana darurat menjadi bantalan penting jika muncul kebutuhan mendesak setelah hari raya. “Dana darurat minimal bisa menutup tiga sampai enam bulan pengeluaran rutin,” jelasnya.

Kelima, lengkapi perencanaan dengan perlindungan keuangan. Tabungan memang penting, tetapi risiko besar seperti sakit, kecelakaan, atau penyakit kritis dapat menguras simpanan dalam waktu singkat. Karena itu, perlindungan finansial menjadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan keuangan keluarga.

PERLINDUNGAN BERBASIS SYARIAH

Presiden Direktur Sun Life Syariah mengatakan perlindungan berbasis prinsip syariah dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang ingin berikhtiar secara finansial sesuai nilai agama. “Melalui prinsip tolong-menolong atau tabarru’, peserta saling membantu menghadapi risiko kehidupan secara transparan dan sesuai prinsip syariah,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan, banyak keluarga fokus pada menabung, tetapi belum melengkapi dengan proteksi yang memadai. “Risiko seperti operasi darurat atau penyakit kritis dapat menimbulkan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah. Perlindungan menjadi bagian penting agar rencana keuangan tidak terganggu,” katanya.

Menurutnya, tujuan pengelolaan THR bukan hanya untuk merayakan Idulfitri secara meriah, tetapi juga menjaga ketenangan finansial setelahnya. “Dengan perencanaan yang matang, THR bisa menjadi momentum memperkuat struktur keuangan keluarga,” ujarnya.

Dengan membagi THR secara proporsional untuk kewajiban agama, pelunasan utang, kebutuhan Lebaran, tabungan, serta perlindungan, masyarakat diharapkan dapat menikmati hari raya tanpa khawatir menghadapi kondisi keuangan yang terganggu setelahnya. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya