KEGANDRUNGAN terhadap gawai mutakhir telah mengubah orientasi belanja generasi milenial (millennial generation, usia 18-29 tahun) di Indonesia.
Kini mereka tidak lagi kikir untuk membeli perangkat komunikasi berupa ponsel pintar dan tablet dengan seabrek fitur terkini.
Perkiraan itu didasari hasil penelitian yang dilakukan Master Card melalui wawancara pada Mei dan Juni 2015 terhadap 2.272 kalangan milenial di 14 negara Asia Pasifik, yakni 47% generasi milenial memilih gadget terkini dalam daftar belanja mereka.
"Seperempat generasi milenial Asia Pasifik berniat menghabiskan sejumlah nilai yang signifikan untuk teknologi terbaru seperti smartphone dan tablet di tahun depan," kata Kepala Mastercard Asia Pasifik Eric Schneider dalam siaran pers di Jakarta seperti dilansir kantor berita Antara, kemarin.
Hal itu, lanjutnya, mencerminkan adanya pergeseran prioritas dari membeli busana desainer dan perhiasan menjadi kini lebih memilih teknologi komunikasi.
"Namun, peningkatan minat untuk teknologi pendukung aktivitas secara online belum berimbas pada pergeseran terhadap tempat belanja," kata Eric.
Mereka masih lebih memilih berbelanja di toko konvensional (64%) ketimbang di situs niaga elektronik (e-commerce) lokal yang hanya 9%.
"Mayoritas cenderung melihat-lihat dahulu barang yang mereka incar di toko," ujarnya.
Hal tersebut disebabkan kekhawatiran terhadap keamanan saat berbelanja daring seperti pencurian dan pemalsuan, khususnya saat mereka membeli barang dalam jumlah besar.
Secara keseluruhan, generasi milenial Tiongkok merupakan pembeli barang mewah terbanyak disusul Korea Selatan dan Hong Kong.
Gadget berteknologi canggih menggerus 25% bujet milenial Asia Pasifik, disusul baju para desainer dan barang berbahan kulit (17%) serta perhiasan (17%).
Namun, untuk memutuskan barang yang bakal dibeli, mereka masih menimbangnya selama satu bulan.
"Seperempat dari generasi milenial Asia Pasifik membeli barang mewah secara spontan jika dibandingkan dengan yang berusia di atas 30 tahun," tuturnya.
Pun lebih dari sepertiga generasi milenial di kawasan itu lebih memilih produk branded dari negara Barat ketimbang merek lokal.
Hal itu dilakukan lebih dari setengah generasi milenial di Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, dan Hong Kong.
Kualitas yang teruji, nilai yang sepadan dari sebuah barang, serta loyalitas pada sebuah merek menjadi alasan mereka berburu barang impor itu.
Seperlima dari mereka membeli barang mewah saat bepergian ke luar negeri.
Hal itu dilakukan 51% generasi milenial Tiongkok.
Bagaimana dengan para kawula muda Indonesia?
"Mayoritas pelanggan di India dan Indonesia lebih memilih berbelanja produk lokal."