Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PRAJOGO Pangestu kembali menjadi pusat perhatian publik setelah kehadirannya dalam pertemuan tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang pada Selasa (10/2) malam Sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2026, sosok pendiri Barito Pacific Group ini bukan sekadar simbol kemakmuran, melainkan representasi dari transformasi industri nasional yang kini bergerak ke arah energi hijau dan kedaulatan ekonomi.
Kisah hidupnya sering dijuluki sebagai The Ultimate Rags to Riches. Lahir dengan nama Phang Djoen Phen pada 13 Mei 1944 di Bengkayang, Kalimantan Barat, Prajogo berasal dari keluarga sederhana.
Keterbatasan ekonomi membuatnya hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat menengah pertama. Sebelum menguasai bursa saham Indonesia, ia pernah menjalani profesi sebagai sopir angkutan umum rute Singkawang-Pontianak.
Titik balik kehidupan Prajogo terjadi pada akhir 1960-an ketika ia bertemu dengan Burhan Uray, pengusaha kayu asal Malaysia pemilik Djajanti Group. Berkat etos kerja yang luar biasa, dalam waktu tujuh tahun Prajogo dipercaya menjabat sebagai General Manager di Pabrik Plywood Nusantara.
Namun, ambisinya tidak berhenti sebagai karyawan. Pada 1977, ia memutuskan untuk berdiri di atas kaki sendiri dengan mengakuisisi CV Pacific Lumber Coy.
Perusahaan inilah yang menjadi cikal bakal PT Barito Pacific Timber, yang kemudian melantai di bursa pada 1993 dan tumbuh menjadi raksasa kayu terbesar di era Orde Baru.
Sadar bahwa industri kayu memiliki keterbatasan keberlanjutan, Prajogo melakukan langkah berani dengan mendiversifikasi bisnisnya. Pada 2007, Barito Pacific resmi mengakuisisi mayoritas saham PT Chandra Asri Petrochemical. Langkah ini mengubah identitas perusahaan dari sekadar pemain komoditas kayu menjadi pemain kunci di sektor petrokimia dan infrastruktur.
Melalui penggabungan dengan PT Tri Polyta Indonesia, Chandra Asri kini menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Keberanian Prajogo dalam mengambil risiko di sektor yang padat modal ini membuktikan visinya yang jauh ke depan mengenai kebutuhan industri manufaktur domestik.
Memasuki dekade 2020-an, Prajogo Pangestu kembali menggebrak pasar modal melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Perusahaan ini fokus pada pengembangan energi panas bumi (geotermal) melalui Star Energy Geothermal. Di bawah kepemimpinannya, BREN sukses menjadi salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Visi hijau ini sejalan dengan komitmen global untuk transisi energi. Prajogo tidak hanya melihat energi terbarukan sebagai peluang bisnis, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk masa depan lingkungan Indonesia. Inilah yang membuatnya tetap relevan dan dominan di tengah perubahan zaman.
Hingga Februari 2026, Forbes mencatat kekayaan Prajogo Pangestu berada di kisaran US$27,6 miliar hingga US$34 miliar (setara dengan ratusan triliun Mata Uang Rupiah). Kekayaannya ditopang oleh sejumlah perusahaan raksasa yang melantai di bursa, antara lain:
Informasi Terkini: Pada awal Februari 2026, grup bisnis Prajogo Pangestu melakukan aksi korporasi besar berupa buyback saham senilai total Rp6,75 triliun untuk memperkuat kepercayaan investor di tengah fluktuasi pasar global.
Pertemuan Prajogo di Hambalang bersama tokoh pengusaha lain seperti Anthony Salim dan Franky Widjaja menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah. Dalam visi "Indonesia Incorporated" yang diusung Presiden Prabowo, peran pengusaha besar seperti Prajogo sangat krusial dalam mempercepat pembangunan perumahan rakyat, kedaulatan pangan, dan kemandirian energi nasional.
Prajogo Pangestu adalah bukti nyata bahwa keterbatasan latar belakang bukanlah penghalang untuk mencapai puncak tertinggi. Dengan kombinasi antara ketajaman insting bisnis dan adaptasi terhadap teknologi hijau, ia terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu arsitek utama ekonomi Indonesia modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved