KEBANYAKAN karyawan, terutama perempuan, memiliki keinginan untuk hidup ideal.
Kesuksesan berkarier secara profesional dan tetap bisa menangani kehidupan rumah tangga, terutama mengurus anak-anak.
Namun, sering kali hal itu tidak bisa dipenuhi karena tuntutan profesional yang kerap mendominasi kehidupan perempuan yang telah berkeluarga.
Laporan Research Now for Mayflower menyebut mayoritas perempuan bahkan bersedia merelokasi keluarganya demi pekerjaan.
Bila merasa terlampau sedikit waktu untuk keluarga, mereka bakal mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan paruh waktu.
Tipe pekerjaan tersebut tampaknya memang yang paling cocok, tetapi kurang mampu memeberikan kepuasan berkarier.
Sesungguhnya masih ada jalan lain, yakni bekerja di perusahaan dengan budaya yang pas yang bisa memberikan keseimbangan hidup karyawan.
Karyawan agen iklan Pacific Northwest, Rebecca Bedrossian, merasa puas dengan budaya kantor yang mengakui bahwa setiap karyawan memiliki kehidupan profesional dan kehidupan sosial untuk keluarga dan teman-teman.
Misalnya, karyawan dapat menikmati secara penuh waktu libur akhir pekan, tanpa gangguan pekerjaan dari kantor.
Ketika bekerja kembali di awal pekan, mereka bakal menjalani pekerjaan dengan lebih bersemangat. Hasilnya pun produktif bagi perusahaan.
"Nilai budaya membuat karyawan berfokus pada hasil dan memungkinkan karyawan untuk mengontrol hari kerja mereka. Ini win-win untuk semua orang--perusahaan, klien, keluarga," jelas Rebecca, seperti dilansir The Guardian, Kamis (29/10).
Sebelum bergabung dengan perusahaan yang sekarang, Rebecca bekerja secara independen di wilayah San Francisco Bay, tempat dia dilahirkan, dibesarkan, dan memiliki keluarga.
Dengan bekerja dari rumah, ia bisa memiliki waktu yang cukup untuk sesekali mengikuti aktivitas anak-anaknya.
Hingga suatu hari, ia tidak bisa lagi mempertahankan pekerjaannya tersebut.
Klien menuntutnya bekerja penuh. Tentu saja dengan imbalan materi yang menggiurkan.
Namun, Rebecca tidak mau menghabiskan kehidupannya hanya untuk mengejar karier, kehilangan keseimbangan, dan malah mengalami stres.
Ia menyadari yang diperlukan hanya mendapatkan pekerjaan di perusahaan dengan budaya kerja yang mengakomodasi kebutuhannya.
Dalam iklim bisnis seperti sekarang, budaya kerja dianggap sebagai keunggulan terbesar suatu perusahaan.
Mengapa?
Karena budaya kerja paling sulit untuk dijiplak.
Kompetitor bisa membuat imitasi produk dan menyodorkan harga yang lebih murah.
Namun, pembentukan budaya perusahaan memerlukan banyak energi, komitmen, dan waktu panjang.