Sabtu 09 April 2022, 17:30 WIB

Indonesia Menjadi Raksasa Pangan Dunia, Dekan FP Unhas: Ini Syaratnya

mediaindonesia.com | Ekonomi
Indonesia Menjadi Raksasa Pangan Dunia, Dekan FP Unhas: Ini Syaratnya

ANTARA
Mentan SYL di tengah sawah di Aceh.

 

INDONESIA sangat berpeluang untuk menjadi raksasa pangan dunia terutama padi. Pasalnya, Indonesia sebagai salah satu negara agraris terbesar di dunia memiliki sumber daya alam  yang luar biasa. 

Padi bagi Indonesia menjadi komoditas prioritas strategis karena menghasilkan beras, bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi. Bahkan, beras juga menjadi sumber karbohidrat  utama bagi kebanyakan negara-negara di Asia. 

Kinerja produksi padi nasional selama ini menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Prof. Salengke tidak ada masalah.

"Dari aspek produksi tidak ada masalah, sistem distribusi pupuk subsidi yang termonitor secara online berkontribusi pada peningkatan produksi karena cukup tepat sasaran. Dan saya lihat, optimalisasi pemanfaatan program perluasan sawah di masa Pak Syahrul juga berkontribusi pada kinerja pertanian yang luar biasa terutama untuk sektor padi," kata Prof Salengke saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (9/4).

Baca Juga: KTNA Apresiasi Keberhasilan Petani Indonesia Tingkatkan Produktivitas Padi

Ada tiga aspek dalam kaca mata Prof Salengke yang harus menjadi perhatian dalam rangka meningkatkan produksi padi sehingga Indonesia bisa menjadi raksasa pangan dunia. Pertama, penggunaan benih. 

"Saya sering katakan, untuk meningkatkan produksi, salah satunya yang harus kita cari adalah benih-benih yang umurnya lebih genjah lagi. Sekarang sudah ada yang 70 hari sudah panen. Dengan begitu, siklus panen bisa 5, malah ada yang mengatakan bisa 6 kali per 2 tahun. ini artinya, bisa meningkatkan jumlah panen sampai 30 persen untuk setiap dua tahun," ungkapnya.

Aspek kedua, lanjutnya adalah pada ranah budidaya. Menurutnya,  masih banyak petani yang mengambil jalan mudah, tidak mau repot sehingga melakukan tabur benih langsung. Ha ini mengakbiatkan inefisiensi penggunaan benih dan anakan menjadi sulit dikontrol.

"Padahal sistem Legowo atau sistim lainnya lebih produktif. Di sinilah peran intervensi ketersedian transplanter oleh pemerintah sehingga jarak tanam dan berapa jumlah yang ditanam dalam setiap lobang bisa dikontrol," katanya.

Aspek selanjutnya adalah penerapan mekanisasi. Prof Salengke mencontohkan bahwa dengan penggunaan Combine Harvester, bukan hanya mempersingkat tapi juga mampu menekan kehilangan (losses) panen.

Namun, ia mengingatkan bahwa sektor pertanian hari ini dan masa datang menghadapi hal krusial, yaitu alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan komersil lainnya dan ketersediaan air. Jika dua hal itu tidak ditangani secara komprehensif, ke depan menurutnya akan menjadi masalah.

"Penggunaan teknologi molekuler seperti teknologi gen editing dapat menjadi solusinya. Ada Inventor dari Inggris menggunakan teknologi tersebut untuk mengembangkan padi yang tahan salinitas tinggi sehingga dapat ditanam pada lahan rawa dekat pantai. Benih yang dihasilkan mulai diuji coba di Vietnam. Indonesi-kan negara kepulauan, di sepanjang pantai itu salinitasnya tinggi, dan kalau kita berhasil mengarah ke sana, saya kira kita akan aman ke depannya," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam beberapa pemberitaan yang mengutip data FAO menyebutkan bahwa Indonesia berdasarkan data badan pangan dunia FAO pada tahun 2018 menduduki peringkat produktivitas kedua dari 9 negara negara FAO di Benua Asia yang menghasilkan produksi beras melimpah.

Adapun urutan tingkat produktivitas tertinggi adalah Vietnam 5,89 ton per hektar (ha), nomor dua Indonesia 5,19 ton per ha, selanjutnya Bangladesh 4,74 ton per ha, Philipina 3,97 ton per ha, India 3,88 ton per ha, Pakistan 3,84 ton per ha, Myanmar 3,79 ton per ha, Kamboja 3,57 ton per ha, dan Thailand 3.l,09 ton per ha. Untuk tingkat Asia posisi produktivitas Indonesia berada di peringkat kedua setelah Vietnam. (OL-10)

Baca Juga

Dok. Synthesis

Hunian di Jakarta Timur Prospektif, Synthesis Huis Kembangkan Proyek di Cijantung

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 22:05 WIB
Yayat menambahkan, dari sisi potensi lingkungan, Jakarta Timur seperti wilayah Cijantung  masih memiliki ruang terbuka hijau yang...
Dok. CFCD

CFCD Gelar Indonesia SDGs Award 2022 pada Oktober, Dorong Pencapaian SDGs di Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 21:51 WIB
ISDA 2022 bertemakan ”No One Left Behind : Best Practice on the Roles of Corporates in...
Dok. Zurich Indonesia

Dorong Kewirausahaan, Zurich dan Prestasi Junior Indonesia Gelar Entrepreneurship Program Bagi SMA/SMK

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 21:41 WIB
Zurich bersama dengan Z Zurich Foundation menyalurkan pendanaan sebesar Rp7,2 miliar untuk mengimplementasikan Zurich Entrepreneurship...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya