Minggu 20 Februari 2022, 20:20 WIB

Asuransi Bantu Industri Berorientasi Ekspor Kurangi Risiko finansial

Bayu Anggoro | Ekonomi
Asuransi Bantu Industri Berorientasi Ekspor Kurangi Risiko finansial

ANTARA/Dian Dwi Saputra
Kerajinan rotan salah satu komoditas ekspor Indonesia

 


RISIKO finansial mengintai industri beriorientasi ekspor meski
saat ini mengalami peningkatan minat di Indonesia. Sebagai solusi,
dibutuhkan asuransi perdagangan untuk memberikan proteksi dan mitigasi
risiko pada pelaku industri perdagangan, khususnya perdagangan ekspor.

Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Arie Surya Nugraha dalam diskusi daring yang diselenggarakan Millennial and
Business Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) bertajuk
Temu CEO episode ke-5, Optimalisasi Pasar Ekspor Nasional Melalui
Asuransi Perdagangan.

Arie menjelaskan, ekspor Indonesia mengalami peningkatan signifikan sekitar 40% pada 2021 jika dibandingkan 2020.

Ada 5 negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia pada 2021 yakni
Jerman, Amerika Serikat, Malaysia, Tiongkok, dan Australia.

"Semua negara memiliki asuransi seperti Asei guna memberikan proteksi pada kegiatan ekspor," kata Arie dalam siaran pers, Minggu (20/2)

Dijelaskan Arie, asuransi perdagangan memiliki kecenderungan yang stabil dan bahkan 5-7 tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan premi. Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan RI, pada 2021 Indonesia mengalami pertumbuhan ekspor cukup tinggi.

Pada 2021 juga merupakan tahun dengan nilai ekspor paling tinggi
sepanjang sejarah. Pemerintah pun telah berkomitmen meningkatkan
kegiatan ekspor, salah satunya tercermin dengan penandatanganan MoU
kerja sama antara Indonesia dan Uni Emirat Arab.

Selanjutnya, Arie menjelaskan, aktivitas perdagangan akan selalu
memiliki risiko. Berangkat dari kacamata asuransi, risiko ditegaskan
sebagi suatu kondisi ketidakpastian.

Para eksportir akan menghadapi risiko komersil misalnya bangkrut. Juga
risiko politik seperti konflik negara, pembatasan kuota, pencabutan izin impor, dan larangan transfer.

"Risiko terbesar yang dihadapi eksportir adalah tidak menerima pembayaran dari pembeli," jelasnya.

Tantangan ekspor lainnya saat ini adalah adanya pandemi covid-19,
perubahan pasar, mekanisme baru pasar yang beralih ke digital, serta
maraknya isu lingkungan.

Selain itu, Arie juga membeberkan, Indonesia memiliki banyak UMKM tapi tidak dibarengi dengan ekspor yang tinggi. Alasannya, UMKM memiliki keterbatasan akses pemodalan dan investasi serta hukum.

"Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mendampingi para pengusaha Indonesia untuk mewujudkan ekspor. Para pelaku UMKM juga harus
memperhatikan fasilitas bantuan pembiayaan yang tersedia di Indonesia.
Asei menawarkan proteksi bagi usaha yang ingin merintis kinerja ekspor," tutur Arie.

Dalam perdagangan, pelaku indsutri ekspor harus memahami metode
pembayaran perdagangan internasional karena ada risikonya. Contohnya seperti dalam sistem pembayaran dengan letter of credit (LC).

"Dari metode pembayaran ini kita bisa lihat risikonya. Kalau letter of credit diterbitkan bank negara maju risikonya tidak ada tapi kalau LC ini dikeluarkan bank negara-negara nontradisional misalnya Afrika, penggunaan metode pembayaran LC ini memberikan risiko pada eksportir," jelasnya.

Asuransi perdagangan bekerja dengan mempersilakan eksportir melakukan
ekspor. Risiko gagal bayar dari importir akan diambil alih asuransi.
Tidak hanya gagal bayar, asuransi juga bisa menjamin risiko kerusakan
barang saat dikirim.

Arie mengingatkan agar selalu melihat risiko pada setiap aktivitas
bisnis. Caranya dengan mengidentifikasi risiko.

"Kita analisis risikonya bisa dikontrol atau tidak. Bisa dikurangi nggak? Kalau bisa kita lakukan mitigasinya. Salah satu mitigasi risiko tersebut adalah transfer risiko dari perusahaan ekspor kepada perusahaan asuransi," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum Iluni UI Andre Rahadian melihat, perdagangan Indonesia harus ditingkatkan. Apalagi saat ini ada konsep revolusi 4.0, juga kondisi pandemi yang telah berlangsung dua  tahun lebih yang menyebabkan banyak konsep-konsep e-commerce yang berjalan.

"Kita mau mencoba mengambil kesempatan, mengajak teman-teman alumni UI
untuk bisa tahu lebih banyak bagaimana menjadi eksportir yang berkelas
dan berkelanjutan," paparnya.

Lebih lanjut, Andre menjelaskan, Iluni UI melalui Millennial and Business Center mencoba mengajak dan membangkitkan entrepreneurship di UI, khususnya pada alumni UI.

Salah satunya dengan menyelenggarakan Temu CEO dengan mengundang para
tokoh entrepreneur, direktur, maupun pejabat C-level dari
perusahaan-perusahaan besar di Indonesia yang berbagi kisah mereka dalam merintis usaha serta meraih kesuksesan dalam bidang mereka.

"Kita bekerja dengan banyak pihak. Pada Temu CEO kelima ini, kita juga
kedatangan teman-teman dari Sekolah Ekspor," tandasnya. (N-2)

Baca Juga

Dok. Petrokimia Gresik

Petrokimia Gresik Rilis Sekolah Makmur untuk Tingkatkan Produksi Pertanian

👤Andhika Prasetyo 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 21:16 WIB
“Program ini, merupakan salah satu implementasi dari strategi customer intimacy Petrokimia Gresik dalam menghadirkan solusi atas...
dok.Kementan

Pertanian Kokoh, Kementan Tanamkan Orientasi Bisnis pada Petani Milenial

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 21:15 WIB
REGENERASI petani bagi keberlanjutan pembangunan pertanian nasional, terus diupayakan oleh Kementerian Pertanian RI, utamanya generasi...
Antara/Basri Marzuki.

Pegadaian Sediakan Produk Bundling Investasi Emas dan Asuransi bagi Pengemudi Ojol

👤Ihfa Firdausya 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 17:44 WIB
PT Pegadaian bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Gojek memperkenalkan produk bundling investasi sekaligus asuransi bagi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya