Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Kopi Luak tanpa Luak

Andhika Prsetyo/E-1
21/5/2016 09:30
Kopi Luak tanpa Luak
(Grafis/Duta)

KOPI luak ialah kopi khas Indonesia yang hanya bisa dihasilkan luak. Benarkah itu? Ya benar, tapi itu dulu. Kini kopi luak ternyata dapat diproduksi tanpa ‘melibatkan’ hewan yang masih satu keluarga dengan musang itu.

Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) mengklaim telah menemukan terobosan anyar untuk memproduksi kopi luak model baru yang roses pembuatannya tak perlu melalui perut luak. Kopi itu mereka sebut kopi luak probiotik.

Secara tradisional, kopi luak dihasilkan dari biji yang telah melalui proses pencernaan luak. Petani kopi mengumpulkan biji kopi fermentasi yang telah dikonsumsi luak dan dikeluarkan dalam bentuk kotoran.

Terdengar menjijikkan memang. Sebagian orang pun mengaku enggan mengonsumsi minuman itu karena merasa geli dengan proses produksinya. Namun, dari sanalah kopi termahal di dunia didapatkan.

“Sekarang, masyarakat tidak perlu lagi merasa (geli) seperti itu. Kini kita dapatkan kopi luak probiotik,” ujar Kepala Balitbangtan, Muhammad Syakir, di Jakarta, Kamis (19/5).

Lantas, kalau tidak ada campur tangan luak dalam pembuatannya, kenapa kopi terobosan Balitbangtan itu masih memakai nama kopi luak?

Syakir menjelaskan, kopi luak probiotik diproduksi menggunakan mikroba probiotik yang diisolasi dari saluran pencernaan hewan dengan nama ilmiah Paradoxurus hermaphrodirus itu.

“Mikroba itu kemudian dipakai untuk memfermentasikan kopi. Bedanya, ini dilakukan di luar pencernaan luak,” kata Syakir.
Dengan bahan baku kopi petik merah yang terseleksi secara ketat, ungkap Syakir, cita rasa yang dihasilkan setara dengan kopi luak alami. Bahkan, kopi luak probiotik punya kelebihan lain, yakni mudah diproduksi serta ramah terhadap luak.

Selain itu, menurut peneliti BPTP Bali, yang juga merupakan inovator kopi luak probiotik, Suprio Guntoro, biaya produksi kopi luak probiotik jauh lebih murah ketimbang kopi luak konvensional.

“Kalau pakai luak biayanya sangat mahal karena kita harus merawat hewan itu, harus melakukan budi daya. Panen kopi tidak sepanjang tahun, tapi kita harus memberi makan luak sepanjang tahun,” ujarnya.

“Jika kita produksi 1 ton, biaya kopi luak probiotik bisa lebih murah hingga seperempat kali daripada kopi luak alami,” imbuh Suprio.

Kini Balitbangtan sudah membuka kesempatan pihak luar untuk bekerja sama demi memproduksi dan membawa kopi luak probiotik ke ranah industri yang lebih besar. “Kopi luak probiotik baru dipasarkan di pameran-pameran saja. Itu dilakukan untuk mengenalkan kepada publik bahwa ada kopi luak yang diproduksi secara berbeda,” imbuh Suprio.

Di pameran, harga kopi luak yang telah disajikan dalam bentuk bubuk bisa mencapai Rp100 ribu per ons. “Mereka, para peminat, sama sekali tidak keberatan dengan harga itu. Makanya kita akan segera lempar ke industri.” (Andhika Prasetyo/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya