Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) terus bergerak mencetak petani milenial. Melalui pendidikan vokasi seperti Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), petani milenial dididik dan ditempa.
Salah satunya seperti dilakukan Polbangtan Manokwari, Papua Barat yang terus mencetak petani milenial. Tiap tahun Polbangtan Manokwari menghasilkan alumni-alumni berkompeten di bidangnya.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menerangkan, hingga 2024 Kementan akan mencetak 2,5 juta petani milenial. Ada dua strategi yang dibocorkan Mentan untuk menghasilkan ratusan juta petani muda ke depan dalam menghadapi perkembangan dunia pertanian yang semakin maju.
Baca Juga: Kementan Dukung DIY Perkuat Pembangunan Pertanian Berbasis Budaya
"Bagaimana strategi kami membuat 2,5 juta petani milenial? Pertama 2,5 juta itu kita berharap terdidik, setiap tahun kami juga memagangkan kurang lebih 1.000 orang ke beberapa negara," kata Mentan SYL.
Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, pendidikan vokasi yang digagas instansinya diharapkan dapat menghasilkan alumni-alumni berkompeten yang bisa menciptakan job creator dan job seeker. "Kalian harus menjadi petani milenial yang bisa menciptakan lapangan kerja. Kalian harus menjadi pengusaha pertanian milenial," kata Dedi saat memotivasi ratusan mahasiswa Polbangtan Manokwari, Jumat (18/6/2021).
Saat ini, Dedi melanjutkan, jumlah petani Indonesia saat ini mencapai 38 juta orang. Sebanyak 70 persennya sudah berusia di atas 40 tahun. Tanpa adanya regenerasi, dalam sepuluh tahun mendatang sekitar 27 juta petani tidak akan bekerja lagi karena berusia lanjut. Regenerasi harus dilakukan saat ini juga.
"Kami menarget mencetak 500 ribu per tahun petani milenial di Indonesia. Target didasarkan pada kondisi sekarang, di mana perkembangan di dunia pertanian semakin maju. Petani milenial itu harus berdaya saing dan profesional. Jadi bukan hanya jumlahnya, tapi juga kualitasnya," ucapnya.
Saat ini, menurut Dedi, pertanian Indonesia juga tengah bergerak ke arah yang maju, mandiri dan modern. Indikatornya adalah pemanfaatan inovasi teknologi dan alat mesin pertanian (alsintan) dalam sistem pertanian Indonesia. "Pertanian kita sudah masuk ke era industri 4.0. Digitalisasi pertanian tak dapat lagi dihindarkan. Dan, yang bisa memanfaatkan peluang itu adalah petani milenial," ujar Dedi.
Satu hal yang ditekankan Dedi, mahasiswa calon petani milenial itu memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan produktivitias pertanian agar Indonesia bisa kembali swasembada pangan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Saat ini, Dedi melanjutkan, produktivitas pertanian kita 5,1 ton per hektar. Jika ingin swasembada pangan kembali, maka dalam waktu 10 hingga 15 tahun ke depan produktivitas harus ditingkatkan menjadi 10,2 ton per hektar.
Ia pun memaparkan bagaimana caranya agar kembali swasembada pangan. Salah satunya dengan menggencarkan bimbingan massal untuk penyuluh di seluruh Tanah Air. "Penyuluh diperbanyak untuk membimbing petani. Dua program penting yang digalakkan adalah bimbingan massal dan intensifikasi massal. Mengelola sawah secara intensif melalui Panca Usaha Tani. Saat ini hal itu menjadi tanggung jawab kalian, petani milenial," tutur Dedi.
Sementara Direktur Polbangtan Manokwari, Purwanta menuturkan, lembaga pendidikannya memiliki 426 mahasiswa yang sebagian besar berasal dari Indonesia Timur dengan tenaga dosen dan pengajar sebanyak 18 orang. "Sejauh ini kurikulum kami memang sedapat mungkin agar para alumni langsung aplikatif, berdaya saing dan profesional di bidangnya," tutur Purwanta. (RO/OL-10)
Ingin melancong ke Uni Emirat Arab? Ini 7 destinasi yang cocok bagi Gen Z dan Milenial yang ingin berkunjung ke Dubai.
Wisatawan Indonesia terus menunjukkan antusiasme untuk bepergian, akan tetapi setiap generasi memiliki cara berwisata dan mencari pengalaman baru yang berbeda.
Remaja masa kini sulit lepas dari ponsel, bahkan di pesta ulang tahun. Simak ide pesta nostalgia tanpa layar yang bisa membuat mereka kembali menikmati kebersamaan.
Riset ini mengungkap perbedaan mencolok dalam cara Gen X dan Millennial mengelola pendidikan, kesejahteraan emosional, pengeluaran, dan waktu bersama keluarga.
Banyak anak muda memilih menggunakan uang untuk hal-hal yang dirasa dapat membuat mereka melupakan tekanan hidup, misalnya dengan belanja online.
Tren pembelian rumah tapak di kawasan Tangerang, khususnya Karawaci, semakin diminati, terutama oleh generasi milenial dan pasangan muda.
Sertifikasi yang merupakan syarat fundamental guna memasuki pasar kerja global, akan dimaksimalkan supaya bisa dilakukan di dalam negeri.
Lulusan pendidikan Vokasi dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki kompetensi digital yang kuat agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempertegas komitmennya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul melalui penyelenggaraan Wisuda Serentak Politeknik.
Kemendikdasmen melalui Ditjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus menegaskan komitmennya untuk memperkuat layanan pendidikan inklusif.
Kemitraan berkelanjutan mampu memberikan manfaat berlapis, salah satunya memperkuat kapasitas institusi pendidikan sebagai penyedia talenta.
Kegiatan edukasi investasi di SMK Metland menunjukkan komitmen kuat dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda yang melek finansial sejak dini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved