Rabu 19 Mei 2021, 09:50 WIB

IHSG Berpeluang Melemah dengan Maraknya Sentimen Negatif

Fetry Wuryasti | Ekonomi
IHSG Berpeluang Melemah dengan Maraknya Sentimen Negatif

Antara
Ilustrasi

 

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (19/5) dibuka pada level 5.817,14, melemah dari penutupan kemarin di level 5.834,39.

Pergerakan masih dipengaruhi kekhawatiran akan inflasi serta kasus Covid-19 di yang kian parah di beberapa negara di Asia.

Berdasarkan analisa teknikal, IHSG memiliki peluang bergerak bervariatif dengan potensi melemah terbatas dan ditradingkan pada level 5,782 – 5,910.

"Sejauh ini IHSG telah menembus batas support terbawah kami di 5.925, meskipun berhasil ditutup di atas batas tersebut, IHSG masih berpotensi cukup besar untuk melemah di tengah situasi dan kondisi yang meningkat karena kekhawatiran akan prospek pemulihan ekonomi," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Rabu (19/5).

Bursa Amerika ditutup melemah semalam. Indeks Dow Jones ditutup -0,78%, Nasdaq ditutup -0,56%, S&P 500 ditutup -0,85%. Pelemahan terjadi setelah data ekonomi jumlah pembangunan rumah menurun sebanyak 9,5% MoM menjadi 1,57 juta unit dari sebelumnya 1,7 juta unit di bulan lalu.

Investor masih menanti statement bank sentral AS The Fed akan terhadap kondisi ekonomi AS saat ini, termasuk peningkatan inflasi ke level di atas 4% yang melebihi target dari The Fed yaitu 2%, dengan antisipasi penghentian stimulus atau bahkan peningkatan suku bunga AS, di tengah usaha AS melakukan re-opening ekonominya.

Bursa Asia dibuka melemah, dimana bursa Hong Kong dan Korea sedang libur. Respon yang sama, investor menanti komentar dari The Fed sebelum melakukan kegiatan investasi.

Dari pasar komoditas, mayoritas mengalami kenaikan. Batubara +1,3%, timah +1,2%, nikel +0,5%, CPO +5%. Sedangkan harga minyak turun, dengan Brent -1,4% dan WTI -1,2%.

Pelemahan harga minyak terjadi akibat adanya isu kesepakatan AS-Iran tentang nuklir yang membuat adanya spekulasi sanksi terhadap Iran dihapuskan dan akan menambah suplai minyak global.

Dari dalam negeri, pemerintah mencatat realisasi anggaran Program Pemulihan Ekonomi Nasional hingga 11 Mei 2021 sebesar Rp172,35 triliun. Jumlah tersebut baru mencapai 24,6% dari total pagu anggaran tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp699,43 triliun.

Jika dilihat berdasarkan pos anggaran, realisasi pada pos kesehatan tercatat paling kecil, yaitu baru mencapai Rp24,9 triliun atau sebesar 14,2% dari pagu Rp175,22 triliun. Sedangkan realisasi anggaran untuk program prioritas mencapai Rp21,8 triliun atau sebesar 17,6% dari pagu Rp123,67 triliun.

Selanjutnya, realisasi anggaran untuk mendukung UMKM dan korporasi telah mencapai Rp42,03 triliun atau 21,7% dari pagu Rp193,53 triliun. Pemerintah juga mencatat realisasi anggaran untuk pos perlindungan sosial telah mencapai Rp56,79 triliun atau sebesar 37,8% dari pagu Rp150,28 triliun.

Sementara, realisasi anggaran untuk insentif usaha tercatat sebesar Rp26,83 triliun atau 47,3% dari pagu sebesar Rp56,72 triliun. Realisasi serapan yang masih terbilang rendah ini tentu akan menjadi perhatian pelaku pasar. Terlebih saat ini sektor

kesehatan dan program prioritas masih membutuhkan dorongan agar mampu menopang pemulihan ekonomi di tahun ini.

Jika mengacu pada pelaksanaan tahun lalu, tidak optimalnya perencanaan dan realisasi anggaran PEN menjadi salah satu penghambat proses pemulihan ekonomi, di samping tren penyebaran Covid-19 yang cenderung tidak menentu.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini diperkirakan masih akan bertumbuh positif, hal tersebut ditopang oleh performa harga komoditas yang naik selama kuartal II dinilai menjadi trigger terhadap naiknya perolehan ekspor. Namun, tren pertumbuhan positif belum tentu akan berlanjut jika kasus Covid-19 kembali mengalami peningkatan.

"Kami melihat saat ini pemerintah perlu menyelesaikan hambatan terkait dengan implementasi program PEN, khususnya di bidang kesehatan tersebut. Distribusi vaksin yang masih lambat serta penanganan pandemic yang kurang tegas dinilai akan mempengaruhi kepercayaan diri dari pelaku pasar," kata Nico.

Ujung-ujungnya nanti masyarakat akan mulai kembali menunda konsumsinya apabila situasi dan kondisi tidak kondusif lagi, yang tentu saja akan memberikan implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Fokus utamanya adalah mendorong setiap sisi fase pemulihan agar dapat menopang perekonomian untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil.

"Namun itu semua kembali lagi kepada pemerintah, sejauh apa pemerintah mempertahankan tren positif, sejauh itu pula keyakinan masyarakat akan tetap melakukan konsumsi," kata Nico. (OL-13)

Baca Juga: Indeks Wall Street Jatuh Terimbas Anjloknya Saham Telekomunikasi

Baca Juga

Dok.BRI Agro

Pacu Penyaluran Pinjaman Digital, BRI Agro Gandeng KoinWorks

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 21 Juni 2021, 06:45 WIB
Hingga Mei 2021 BRI Agro telah menyalurkan sebesar Rp 348miliar melalui platform...
Antara

Ini Luas Karhutla di Indonesia yang Diidentifikasi KLHK

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 20 Juni 2021, 19:59 WIB
"Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 9,13% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020," kata Basar kepada Media Indonesia...
MI/Bagus Suryo

Selamat! Indonesia Terpilih Wakili Asia Jadi Anggota Dewan FAO (2021-2024)

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 20 Juni 2021, 19:47 WIB
Mentan Syahrul Yasin Limpo bersyukur dan memberikan apresiasi atas kepercayaan dari Badan Pangan Dunia (FAO) untuk Indonesia menjadi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jangan Gagap Lindungi Nasabah di Era Digital

ERA pandemi covid-19 berdampak pada berpindahnya aktivitas masyarakat di area digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya