Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Harga Minyak Indonesia Tertatih Tahun Ini

Tes
07/4/2016 08:10
Harga Minyak Indonesia Tertatih Tahun Ini
(ANTARA/Rosa Panggabean)

TREN pelemahan harga minyak dunia membuat harga minyak berdasarkan formula Indonesia crude price (ICP) hanya naik perlahan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis harga rata-rata minyak mentah Indonesia Maret 2016 berada di kisaran US$34,19 per barel atau naik US$5,27 per barel dari ICP Februari 2016 sebesar US$28,92 per barel.

"Meski mulai merangkak, rasanya masih sulit mencapai asumsi dasar ICP yang ditetapkan dalam APBN 2016, yakni US$50 per barel," ucap Direktur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto kepada Media Indonesia, kemarin.

Proyeksinya, sepanjang 2016, ICP diperkirakan hanya bertengger di kisaran US$35-US$40 per barel.

Hal itu dipengaruhi kebijakan sejumlah negara produsen minyak yang enggan menahan laju produksi.

Alhasil, pasar minyak dunia masih mengalami over supply 1,3 juta barel per hari di sepanjang 2016.

"Itu akan memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dan ICP," imbuhnya.

Pengamat energi Yusri Usman mengatakan kenaikan harga minyak global menjadi harapan bagi negara penghasil migas seperti Indonesia.

Namun, jika menilik besaran volume impor minyak yang jauh lebih tinggi ketimbang angka produksi dalam negeri, sambung dia, penurunan harga crude semestinya menguntungkan Indonesia. Utamanya, untuk menambah cadangan minyak nasional.

Di satu sisi, pengoperasian fasilitas residual fluid catalytic (RFCC) Kilang Cilacap dan Kilang TPPI Tuban diharapkan memberi kontribusi yang signifikan dalam mengurang importasi BBM jenis premium.

"Harga minyak murah bisa jadi berkah bagi kita. Seharusnya ada upaya memanfaatkan momentum tersebut," tutur Yusri melalui pesan singkat.

Sekitar pertengahan April, negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC akan menggelar pertemuan.

Yusri menilai pertemuan itu bisa berdampak besar mengerek harga minyak dunia, asalkan ada kesepakatan untuk menurunkan produksinya.

"Kalau minyaknya sedikit langka, itu akan mendongkrak harga. Bisa saja di atas US$50 per barel," imbuh dia.

Terkait dengan iklim investasi sektor migas di Tanah Air, Yusri menilai dengan harga minyak mentah di bawah US$80 per barel tidak akan menggairahkan minat investasi baru.

"Mereka lebih fokus melakukan efisiensi," pungkasnya.(Tes/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya