Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

30% Pekerjaan Bank Menunggu Punah

Andhika Prasetyo
07/4/2016 07:30
30% Pekerjaan Bank Menunggu Punah
(AP/Richard Drew)

TEKNOLOGI semakin berkembang.

Gelombang inovasi kian deras menerjang, tidak terkecuali dalam dunia keuangan. Sangat bagus memang.

Namun, dampak buruk juga hadir sebagai efek samping dari kecanggihan teknologi saat ini.

Berbagai teknologi baru telah memungkinkan seseorang untuk mendapatkan layanan perbankan tanpa menyambangi kantor cabang.

Kini nasabah dapat menggunakan ponsel pintar untuk mengirim sesuatu atau mencari informasi saldo.

Konsekuensinya, beberapa pekerjaan di sektor perbankan pun terancam berakhir.

Menurut laporan terbaru perusahaan jasa keuangan Citigroup, 30% dari pekerjaan di bank bisa hilang antara 2015 dan 2025, terutama karena otomatisasi perbankan ritel.

"Teknologi keuangan membawa perbankan pada titik kritis," ujar Citi.

Saat ini revolusi ponsel pintar juga telah membuat e-commerce mengancam pemain yang lebih mapan.

Akibatnya, banyak perusahaan mengubah cara konsumen untuk melakukan pembayaran.

Ada sejumlah besar uang yang dituangkan ke startup teknologi yang bergerak di bidang finansial atau sering disebut financial technology atau fintech.

Investasi di fintech telah meledak menjadi US$19 miliar pada tahun lalu dari US$1,8 miliar pada 2010.

Lebih dari 70% investasi itu difokuskan pada membuat pengalaman pelanggan yang lebih baik.

"Inilah era Silicon Valley," kata CEO of JP Morgan Chase Jamie Dimon dalam surat tahunan 2015.

"Ada ratusan startup dengan banyak uang dan pemikiran brilian bekerja pada berbagai alternatif untuk perbankan tradisional."

Sejauh ini, bank-bank tradisional masih mampu bertahan terhadap serangan kecanggihan teknologi.

Namun, Citi beranggapan hal itu tidak akan bertahan lama karena lesunya lingkungan bisnis bagi bank tradisional, sedangkan transformatif teknologi baru semakin kuat.

Citi memperkirakan, pada 2023, sekitar 17% dari pendapatan perbankan consumer Amerika Utara dapat dipengaruhi gangguan digital.

Laporan Citi juga menyebutkan adanya kantor cabang dan staf bank membuat 65% total biaya dasar bank lebih besar.

Banyak dari pekerjaan itu berisiko terkena dampak otomatisasi.

Pekerjaan teller juga terancam.

Hal itu terlihat dari jumlah teller di bank AS yang telah turun 15% sejak mencapai puncaknya pada 2007.

Tidak berhenti di situ, inovasi lebih lanjut yang lebih menarik seperti blockchain, teknologi menggunakan Bitcoin untuk verifikasi transaksi di seluruh dunia, juga jelas mengganggu pekerjaan perbankan di masa depan.

"Komputer semakin canggih. Kita tidak lagi butuh manusia sebagai perantara. Itu akan terjadi segera," ujar pengamat masa depan, Amy Webb. (CNN/Andhika Prasetyo/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya