Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Syariah makin Menggeliat

Anastasia Arvirianty
04/4/2016 08:15
Syariah makin Menggeliat
(ANTARA/Sigid Kurniawan)

PASAR modal berbasis syariah semakin dilirik masyarakat sebagai salah satu instrumen investasi yang menjanjikan.

Peningkatan pemahaman dan kepercayaan terhadap skema perniagaan dengan prinsip muamalah itu tecermin dari antusiasme warga saat Festival Pasar Modal Syariah 2016 digelar di Jakarta pada 30 Maret-2 April 2016.

"Antusiasme masyarakat untuk mencari tahu mengenai pasar modal syariah cukup tinggi. Selama empat hari penyelenggaraan dari 30 Maret hingga 2 April 2016, ada 9.517 pengunjung, melampaui target awal 6.000 pengunjung," kata Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan saat penutupan acara tersebut di Jakarta, Sabtu (2/4).

Ia menyampaikan gelaran yang digagas PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membukukan transaksi di gerai (booth) anggota bursa (perusahaan sekuritas), manajer investasi, dan bank agen penjual reksa dana senilai Rp1,05 miliar. Sementara itu, transaksi di booth perusahaan tercatat (emiten) Rp1,24 miliar.

"Dengan demikian, total transaksi selama Festival Pasar Modal Syariah 2016 mencapai Rp2,3 miliar dari 44 booth," kata dia.

Minat masyarakat juga ditunjukkan dengan jumlah pengunjung yang selalu ramai ketika acara dialog (talk show) peluang investasi di bursa efek berbasis syariah itu.

"Melalui kegiatan seperti ini, kami optimistis pasar modal khususnya syariah terus maju dan berkembang di masa depan," ujar Nicky.

Dalam pandangan Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, dengan suku bunga yang sedang rendah saat ini, masyarakat tengah mencari alternatif investasi yang menarik.

"Ditambah dengan portofolio kinerja instrumen investasi syariah yang lebih baik jika dibandingkan dengan instrumen konvensional, semakin mendorong minat masyarakat untuk terjun pada syariah," tutur Satrio.

Berdasarkan analisisnya,di 2016 ini kinerja instrumen investasi konvensional masih belum pulih maksimal.

Kebijakan baru mengenai net interest margin (NIM) perbankan turut menurunkan minat para investor saham perbankan.

Ia pun mencatat, pada kuartal I 2016 ini, imbal hasil dari reksa dana konvensional masih akan kalah dari reksa dana syariah.

"Paling tidak, untuk satu kuartal pertama di 2016, saham syariah bisa lebih baik," pungkas Satrio.

Investasi mudah

Hal senada diungkapkan Chief Economist and Director for Investor Relation Bahana TCW Investment Budi Hikmat.

Ia melihat, sebagai instrumen investasi yang sama mudahnya dengan sistem konvensional, prospek pasar modal syariah lebih menjanjikan ketimbang tahun lalu.

"Investasi cerdas pasar modal, baik konvensional maupun syariah, intinya menanam keuntungan, yakni menyisihkan pendapatan per bulan dan meletakkannya pada instrumen investasi," kata Budi, akhir pekan lalu.

Dengan populasi umat Islam yang besar, potensi investasi di pasar modal syariah juga memiliki prospek cerah.

"Kaum muslim yang meragukan kehalalan hasil investasi saham konvensional bisa memilih pasar modal syariah," terangnya.

Berdasarkan data BEI, sampai akhir tahun lalu jumlah investor saham syariah tumbuh signifikan mencapai 76% dalam empat tahun terakhir menjadi 4.908 investor.

Saat ini tercatat sejumlah 318 saham syariah atau 61% dari total kapitalisasi pasar saham Indonesia.

Jumlah itu meningkat 34% sejak 2011 lalu serta jumlah reksa dana syariah yang aktif tumbuh 24% jika dibandingkan dengan 2014. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya