Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Intensifkan Serapan saat Harga Rendah

Jessica Sihite
04/4/2016 06:40
Intensifkan Serapan saat Harga Rendah
(ANTARA/Basri Marzuki)

PERDEBATAN soal harga dan penyerapan gabah dan beras dari petani saat ini seperti perdebatan tentang telur dan ayam.

Di satu sisi, Perum Bulog yang ditugasi menyerap gabah mengaku kesulitan karena harga gabah, meski sudah turun, masih di atas harga pembelian pemerintah (HPP).

Mereka, sesuai amanat regulasi, tak bisa membeli bila harga di atas HPP.

"Ini rumit. Kita disuruh beli dengan HPP. Itu perintah regulasi sehingga Bulog pintar-pintar cari gabah yang harganya belum tinggi," kata Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti kepada Media Indonesia, Jumat (1/4).

Namun di lain sisi, seperti dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin, Bulog justru ikut andil membuat harga gabah tinggi karena kurang cepat membeli dari petani.

"Kenapa (harganya) di atas HPP? Karena Bulog kurang cepat membeli dari petani," tukas dia.

"Begitu panen, mestinya Bulog meluncur. Kalau dilama-lamain, persyaratan terlalu ribet, pembayaran tidak cepat, akan dibeli duluan oleh pihak lain," imbuh Suryamin.

BPS mencatat harga gabah, baik di tingkat petani maupun penggilingan, pada Maret 2016 turun ketimbang Februari 2016 akibat panen raya pada Maret.

Rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp4.703 per kg dan rata-rata harga gabah kering giling (GKG) Rp5.501 per kg.

Di penggilingan, harga GKP Rp4.783 per kg dan harga GKG Rp5.622 per kg.

Harga-harga gabah itu masih di atas HPP yang berrkisar Rp3.700-Rp3.750 per kg.

Djarot mengelak tingginya harga gabah di lapangan disebabkan lambatnya Bulog menyerap dari petani.

Ia menilai yang terjadi sebaliknya, penyerapan rendah karena harga dari Bulog memang kurang tinggi ketimbang harga penawaran dari swasta.

"Karena itu, Bulog terus mencari daerah yang harga gabahnya masih di tingkat HPP atau di bawahnya," ujarnya.

Penyerapan gabah dari petani oleh Bulog saat ini mencapai 12 ribu ton per hari.

Jumlah tersebut, menurut Djarot, terus mengalami peningkatan sejak awal tahun yang sebesar 100-200 ton per hari.

Serapan di daerah

Di daerah, upaya penyerapan oleh Bulog juga diintensifkan.

Bulog Subdivre Kedu, Jawa Tengah, telah menyerap sekitar 1.000 ton beras dari petani di Purworejo, Magelang, Kebumen, dan Wonosobo.

"Gabah kering panen (GKP) juga masih kita beli. Sekarang sudah beli 100 ton GKP dari Purworejo, tapi masih proses pengeringan," ujar Kepala Bulog Subdivre Kedu, Imron Rosidi, kemarin.

Di Bulog Subdivre Banyumas, Jawa Tengah, menurut Humas Bulog Banyumas M Priyono, hingga kemarin jumlah penyerapan mencapai 2.800 ton beras.

Setiap hari ada pasokan ke gudang 150-400 ton.

"Pada hari biasa, jumlah beras yang masuk ke gudang 400 ton, tapi di akhir pekan agak berkurang, berkisar 150 ton," jelas Priyono.

Di Bali, Bulog setempat hingga pekan lalu baru mampu menyerap sekitar 100 ton GKP.

Gabah itu selanjutnya diproses lewat mitra kerja hingga jadi beras.

"Sampai saat ini, kami baru bisa membeli gabah dari petani 100 ton," ujar Kepala Bulog Divre Bali, Mansur Riri.

Sementara itu, di Kabupaten Malang, gabah dari luar kota mulai menyerbu pasar.

Pedagang dan pengusaha penggilingan membeli gabah dengan harga di bawah HPP dari daerah lain, kemudian dioplos dengan gabah dari Malang.

"Harga terendah Rp3.600 per kg hingga penggilingan," ujar Mukhrozi, petani di Karangploso, Malang, kemarin.(TS/LD/RS/BN/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya