Kamis 26 November 2020, 14:40 WIB

UMKM Papua Bisa Fokus Pada Komoditas Unggulan

Despian Nurhidayat | Ekonomi
UMKM Papua Bisa Fokus Pada Komoditas Unggulan

Antara
Pekerja mengolah sagu di Kabupaten Merauke, Papua.

 

MENTERI Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan pandemi covid-19 telah memberikan pelajaran bahwa dalam pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ke depan harus berbasis kearifan lokal dan menghubungkan UMKM ke dalam ekosistem digital.

"UMKM Papua diharapkan dapat menghasilkan produk lokal dengan nilai tambah dan ekonomis tinggi," ungkapnya dalam acara Talkshow Virtual “Festival Bajual Digital Papua 2020” bertema Mengangkat Potensi Kearifan Lokal Menjadi Komoditas Global, Kamis (26/11).

Menurut Teten, kekayaan alam khususnya migas akan habis. Namun, kekayaan alam seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan, dapat bernilai tambah dan ekonomis tinggi.

"Papua merupakan penghasil sagu terbaik dan terkenal memiliki keunggulan kadar gula yang rendah yang bisa menjadi nilai tambah," lanjut Teten.

Teten berharap UMKM Papua bisa fokus kepada komoditas unggul yang memiliki pangsa pasar tersendiri. Misalnya, rempah-rempah (cengkeh, pala, vanila), kelor, nilam. Termasuk essential oil massoia atau masoi yang bernilai tinggi bisa mencapai Rp10 juta per kilogram dan merupakan bahan baku salah satu parfum terkenal, gaharu, cendana, dan lain-lain.

"Belum lagi potensi ikannya, seperti ikan mas, tuna, kerapu, dan sebagainya. Ada juga kelapa, dan potensi pariwisata," sambungnya.

Hanya saja, Teten berharap pengelolaan potensi-potensi tersebut harus berkelompok dalam skala ekonomis, dan dipercepat dengan digitalisasi, sesuai dengan arah kebijakan transformasi UMKM ke depan.

"Di antaranya, transformasi ke sektor formal, hingga transformasi ke digital dan pemanfaatan teknologi. 97% wilayah Indonesia telah terhubung dengan internet, termasuk Papua," kata Teten.

Catatan lain, tren ekonomi digital tumbuh positif, dengan 38% pengguna internet baru, 93% konsumen tetap memanfaatkan digital pascapandemi dan rerata waktu online per harinya 4,3-4,7 jam/orang (Google, Temasek, BainResearch).

Bagi Teten, isu utama dalam mendorong UMKM go-digital adalah kapasitas usaha, kualitas produk, dan literasi digital.

"Upaya pemerintah melalui pengembangan inkubasi bisnis UMKM yang terintegrasi dengan Perguruan Tinggi. Kolaborasi program dengan pilar pentahelix," ujarnya.

Selain itu, KemenkopUKM juga akan mengoptimalkan agregator dan enabler dalam proses bisnis UMKM. "Enabler yang menghadirkan layanan untuk menyederhanakan proses bisnis yang ditempuh UMKM," tegas Teten.

Sedangkan peran agregator adalah mengkonsolidasikan proses bisnis, seperti konsolidator produksi (factory sharing), rumah pengemasan bersama, dan lain-lain. (E-3)

Baca Juga

ANTARA/Oky Lukmansyah

Industri Makanan Minuman Tumbuh Positif saat Pandemi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 20 Januari 2021, 20:44 WIB
Data tersebut diketahui berasal laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang memperlihatkan jumlah ouput industri makanan dan minuman dari...
ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Sriwijaya Air Tambah Kompensasi Ahli Waris Korban Jadi Rp1,5 M

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 20 Januari 2021, 20:35 WIB
Kewajiban untuk membayar ganti rugi kepada perwakilan atau ahli waris korban tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun...
Dok MI

Sandiaga: OJK Sepakati Kredit Pemulihan Parekraf Rp3 Triliun

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 20 Januari 2021, 20:05 WIB
Mereka yang tercatat sebagai penerima kredit, lanjut Sandiaga, akan mendapatkan bantuan dengan jumlah minimal sebesar Rp50 juta per...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya