Kamis 17 September 2020, 06:10 WIB

Penyaluran Anggaran Rp100 T Dikebut Dua Pekan Ini

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Penyaluran Anggaran Rp100 T Dikebut Dua Pekan Ini

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Pekerja Usaha Kecil Menengah (UKM) menyelesaikan pembuatan celana berbahan denim di Pusat Industri Kreatif, Jakarta, Rabu (26/8) pekan lalu.

 

SATUAN Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional akan mengebut penyaluran anggaran sti­mulus pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang ditargetkan mencapai Rp100 triliun akhir bulan ini.

Pencapaian pencairan stimulus PEN diharapkan dapat menciptakan daya ungkit Rp210 triliun ke perekonomian sehingga mampu memperbaiki pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

“Tetapi, memang ada variabel lain yang kita tidak tahu apakah turunnya lebih dalam atau kemudian ada sektor lain yang tidak produktif, itu di luar perkiraan kita. Tapi, dengan bekerja keras salurkan Rp100 triliun, kita harap dalam tiga bulan terakhir ini kita bisa berikan daya ungkit ekonomi yang cukup besar untuk kuartal III,” Ketua Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional Budi Gunadi Sadikin di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Budi menjelaskan, hingga awal pekan ini, anggaran stimulus PEN yang sudah tersalurkan mencapai Rp87,5 triliun.

Jika dihitung secara normatif menggunakan asumsi produk domestik bruto Indonesia yang setiap kuartal sebesar Rp3.625 triliun, ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 menurun sebesar Rp188 triliun.

Oleh karena itu pula, Satgas PEN memberikan target penyaluran stimulus pemulihan ekonomi nasional hingga Rp100 triliun pada akhir kuartal III 2020, atau September ini, agar memberikan daya ungkit ekonomi sebesar Rp210 triliun di masyarakat.

Dengan begitu, daya ungkit ekonomi yang dihasilkan dapat mengompensasi penurunan laju kegiatan ekonomi kuartal II 2020 yang sebesar Rp188 triliun.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir optimistis Indonesia akan segera keluar dari jurang krisis akibat wabah covid-19.

“Tentu harus ada optimisme dan Indonesia bisa keluar dari krisis ini. Lembaga-lembaga internasional memperoyeksikan Indonesia akan lebih baik, bahkan 2045 akan masuk negara maju,” kata Erick saat webinar Transforming Indonesia into Asia’s Next Supply Chain Hub yang diadakan HSBC Economic Forum, kemarin.

Proyeksi keluarnya Indonesia dari jurang krisis disokong dengan grafik mortality dan ekonomi Indonesia yang membaik bahkan nomor dua di bawah Taiwan.

Selain itu, perkembangan covid-19 di Indonesia saat ini menunjukkan tingkat kesembuhan mencapai 70% di atas rata-rata global sebesar 68,10%. Namun, fatality rate atau angka kematian mencapai 4,3%, sedangkan rata-rata global 3,46%.

Selain itu, Erick menyebut perekonomian Indonesia masih jauh lebih baik daripada negara-negara ASEAN. Bahkan, masih juga lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara G-20 seperti India, Perancis, dan Inggris.

“Hal itu disebabkan keputusan Presiden untuk tidak lockdown adalah keputusan tepat. Kita bisa bandingkan dengan Asia Tenggara, secara tren kita baik,” ungkapnya.

Proyeksi 2021

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) tetap melihat kemungkinan Indonesia berada di ujung tanduk resesi.

Peneliti CIPS Pingkan Audrine Kosijungan menjelaskan kondisi yang terjadi pada saat ini akan berpengaruh juga pada 2021.

Untuk tahun depan, menurut CIPS, sudah sepantasnya anggaran-anggaran dengan angka yang besar dipusatkan kepada sektor-sektor yang mendorong pemulihan ekonomi akibat pandemi dan ancaman resesi. (Try/Iam/Ant/E-1)

 

Baca Juga

ANTARA FOTO/OLHA MULALINDA

Kemenhub Gelar Program Padat Karya di Sorong

👤Despian Nurhidayat 🕔Sabtu 06 Maret 2021, 11:10 WIB
Program padat karya di KSOP Sorong Papua meliputi kegiatan pengecatan lapangan parkir, pengecatan pagar keliling dan pengecatan...
Antara

Petani Kecewa Impor Beras tetap Dilakukan

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 06 Maret 2021, 10:27 WIB
Sebelumnya BPS merilis bahwa produksi beras pada tahun ini diperkirakan meningkat tinggi yakni sebesar 4,86 juta hektare atau naik sebesar...
Dok: Medcom.id

Holding Ultra Mikro bukan Akuisisi Tapi Sinergi

👤Despian Nurhidayat 🕔Sabtu 06 Maret 2021, 10:20 WIB
"Jadi aksi korporasi ini bukan BRI mengambil dua perusahaan BUMN itu. Bukan akuisisi, membentuk holding. Jadi upaya untuk tidak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya