Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Impor Konsumsi Melambung

Jessica Sihite
16/3/2016 05:54
Impor Konsumsi Melambung
(MI/ROMMY PUJIANTO)

Walau secara nilai naik dari Januari lalu, volume ekspor nonmigas di Februari justru menurun.

Tren kenaikan impor barang konsumsi Indonesia kembali berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan volume impor barang konsumsi melampaui 100% pada Februari 2016 dari Februari 2015 (year on year).

Kepala BPS Suryamin mengatakan volume impor barang konsumsi melambung hingga 102,59%. Ia beralasan harga barang-barang konsumsi di pasar global sedang anjlok sehingga barang itu banyak diborong masyarakat. "Harga kebutuhan sehari-hari di pasar dunia lagi menurun, masyarakat jadi belanja lebih banyak," tuturnya dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Secara nilai, impor barang konsumsi Februari 2016 pun meningkat 21,9% (yoy). Sementara itu, secara kumulatif Januari-Februari 2016, kenaikannya mencapai 34%. Adapun pada Januari lalu, impor barang konsumsi naik 47%.

Kondisi berbeda terjadi pada nilai impor kumulatif bahan baku/penolong dan barang modal yang turun selama Januari-Februari lalu. Namun, secara volume, impor kumulatif barang modal masih tumbuh positif 7,9% atau sebesar 23 ribu ton.

Suryamin menilai volume impor barang modal mulai merangkak naik karena pembangunan mulai digenjot pemerintah. "Volume impor mesin dan peralatan listrik juga naik 900 ton pada Februari. Nilai impor kendaraan dan bagiannya juga naik 35,35% dan volumenya naik 12 ribu ton. Itu bagian dari impor barang modal," ujarnya.

Di kesempatan sama, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengemukakan mayoritas dari impor barang konsumsi yang membengkak merupakan kebutuhan sehari-hari, seperti gula, buah-buahan, hewan, daging sapi, gandum, dan sayuran. Barang-barang impor itu berasal dari negara yang berbeda-beda, antara lain Australia, Thailand, dan Tiongkok.

"Impor barang konsumsi ini lebih ke makanan setengah jadi. Hewan seperti sapi hidup. Lalu, ada juga makanan kalengan, buah, dan gandum. Kalau barang-barang untuk e-commerce belum kita lihat lagi, tapi tidak banyak," cetus Sasmito.

Senada dengan Suryamin, ia menyebut kondisi harga barang di dunia yang sedang murah dimanfaatkan oleh masyarakat dan pemerintah untuk berbelanja, baik untuk konsumsi maupun produksi. "Industri manufaktur misalnya juga memanfaatkan ini untuk inventori (penyimpanan) mungkin", terangnya.

Tetap surplus

Secara keseluruhan, nilai impor kumulatif Februari mencapai US$20,63 miliar, turun 14,48% yoy. Di sisi ekspor, kumulatifnya mencapai US$21,78 miliar. Meski nilai ekspor itu merosot 14,32% dari setahun lalu, neraca perdagangan luar negeri Indonesia sampai akhir Februari masih dapat mencetak surplus US$1,26 miliar.

Sasmito memprediksi neraca perdagangan pada bulan ini akan tetap mengalami surplus, tapi menipis. Pasalnya, ia menaksir impor kian meningkat, khususnya impor barang modal. Kurs rupiah yang amat mungkin terus menguat terhadap dolar AS pun turut berpengaruh.

Di tempat terpisah, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan surplus neraca dagang menunjukkan aktivitas perekonomian di dalam negeri membaik. "Itu menunjukkan ekspor bergerak, dalam beberapa bulan ada tanda-tanda kenaikan ekspor (bulanan) secara berkesinambungan," ucapnya. (Jay/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya