Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Apresiasi Rupiah masih akan Berlanjut

Fat/E-2
07/3/2016 07:46
Apresiasi Rupiah masih akan Berlanjut
(ANTARA/M Agung Rajasa)

BELAKANGAN ini, nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren penguatan. Walakin, rupiah masih di bawah nilai fundamentalnya.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, penguatan kurs rupiah ditopang beberapa faktor.

"Pertama ini karena perbaikan kinerja inflasi, neraca pembayaran, dan paket deregulasi pemerintah. Kedua, situasi ekonomi global," ungkapnya via pesan singkat kepada Media Indonesia, kemarin.

Faktor ekonomi global yang dimaksud Mirza ialah sinyal Bank Sentral AS yang akan menahan suku bunga sepanjang semester ini.

Selanjutnya, kebijakan suku bunga negatif di Eropa dan Jepang yang mendorong arus kapital masuk ke emerging market.

Arus modal itu, menurut Mirza, sangat memengaruhi nilai tukar rupiah.

Bahkan, real effective exchange rate (REER) Indonesia yang mencerminkan harga rupiah berdasarkan fundamental perekonomiannya relatif membaik. Pada Januari, REER rupiah ada pada 91,23. Pada November-Desember, REER rupiah masih di kisaran 89.

Jika mengacu ke level nilai wajar (fair) 100, kurs rupiah idealnya di kisaran Rp12.600 per dolar AS.

Walakin, sampai akhir pekan lalu, kurs rupiah masih berkitar 13.200 alias undervalue.

Mirza memperkirakan penguatan nilai tukar rupiah masih akan berlanjut selama semester pertama ini.

"Kurs rupiah tergantung aliran modal portofolio yang masuk dari luar negeri yang mungkin masih cukup deras di semester I," ungkapnya memprediksi.

Kepala Ekonom Senior Mandiri Institute Andry Asmoro menilai, dengan membaiknya fundamental perekonomian dalam negeri, REER rupiah seharusnya bisa lebih baik.

"Kalau dari indikator domestik sih memang mendukung untuk penguatan REER," kata dia.

Karena itu, pemerintah diwanti-wanti berkonsentrasi menjaga arus kapital saat ini, termasuk ke sektor riil, agar terus mengalir.

"Pemerintah mesti menjaga aliran modal dengan fokus pada percepatan belanja pemerintah, menjaga kesinambungan kebijakan fiskal, dan mendorong infrastruktur."

Sebelumnya, ekonom Didiek Rachbini menyayangkan penguatan rupiah yang lebih disebabkan ditopang aliran kapital ke pasar finansial ketimbang penguatan ekspor atau penerimaan devisa.

Rupiah yang selama ini undervalue sebenarnya bisa bermanfaat mendorong laju ekspor karena harga barang jadi lebih murah di pasar global.

Sayangnya, Indonesia tidak bisa menikmati potensi itu lantaran sebagian ekspor ialah komoditas yang kini harganya tengah jatuh. (Fat/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya