Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menegaskan, harga BBM di Tanah Air masih sangat bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sehingga diduga turut menjadi pertimbangan Pemerintah belum menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Harga BBM di Indonesia saat ini masih cukup kompetitif dengan harga jual BBM di sejumlah negara tetangga, seperti Filipina, Thailand, Kamboja, Laos, dan Singapura," katanya di Jakarta, Selasa (6/5).
Berdasarkan data globalpetrolprice.com, lanjutnya, untuk bensin gasoline 95 misalnya, Indonesia berada pada level Rp8.496/liter lebih murah dibandingkan Thailand, Rp10.944/liter, Laos Rp15.552/liter, Filipina Rp11,376/liter, atau Singapura Rp20.160/liter.
Sedangkan jenis solar untuk gasoil, Indonesia berada pada Rp9.072/liter, di bawah Laos Rp12.672/liter atau Singapura Rp16.560/liter.
Selain harga BBM yang masih kompetitif, Komaidi juga menduga bahwa kondisi sosial-ekonomi dunia dan domestik yang "tidak normal" terutama terkait pandemi Covid-19 juga menjadi basis pemerintah untuk belum menyesuaikan harga BBM.
Baca juga : Imbas Covid-19 Alokasi Elpiji 3 Kg di Klaten tidak Terserap
"Termasuk di antaranya, karena adanya penurunan tingkat konsumsi dan aktivitas masyarakat akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan anjuran di rumah saja," kata dia.
Sementara VP Corporate Communications Pertamina Fajriyah Usman menegaskan, dalam 'kondisi normal', Pertamina sudah dua kali menurunkan harga BBM pada tahun ini yakni pada awal tahun terhadap BBM JBU, Pertamax series dan Dex series.
Demikian juga tahun lalu, lanjutnya, tidak dilakukan kenaikan harga, namun justru penurunan harga. Sementara BBM jenis Biosolar dan Premium, sejak April 2016 tidak pernah mengalami kenaikan harga.
Sedangkan dalam kondisi ekonomi dunia 'tidak normal' karena pandem Covid-19, Pertamina juga tidak diam, tambahnya, namun terus memonitor dinamika harga minyak mentah, sekaligus mempertimbangkan prioritas penyediaan energi dalam negeri.
Termasuk di antaranya, mencermati perundingan negara OPEC dan non-OPEC awal April 2020. Dalam perundingan tersebut, OPEC sepakat untuk memotong produksi minyak dunia sebesar 9,7 juta barel per hari, pada Mei dan Juni 2020.
Meski dalam posisi mencermati, Fajriyah menegaskan, saat ini harga BBM di Indonesia masih kompetitif jika dibandingkan dengan BBM di ASEAN. "Bahkan untuk di SPBU di Indonesia, BBM Pertamina juga paling murah," jelasnya.
Pertimbangan lain yang harus dicermati, lanjutnya, adalah kurs Rupiah yang saat ini melemah dan konsumsi BBM yang jauh menurun.
"Di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, dan Medan, penurunan (konsumsi bbm) bahkan sangat tajam, lebih dari 50%," katanya.
Selain itu, Pertamina juga memberikan program cashback 30 persen khusus untuk pelanggan yang membeli BBM nonsubsidi Pertamax series dan Dex series dengan menggunakan aplikasi MyPertamina dan pembayaran dengan LinkAja. (Antara/OL-09)
Direktur The Climate Reality Project Indonesia, Amanda Katili Niode, menekankan pentingnya konsumsi BBM secara bijak demi menekan emisi gas rumah kaca.
Keputusan Presiden Prabowo menahan harga BBM adalah bukti nyata keberpihakan kepada rakyat.
EKONOM PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang menyebut potensi penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi dapat meningkatkan angka inflasi secara keseluruhan.
IESR: Jaminan Pemerintah Soal Ketersediaan BBM Perlu Dibarengi Keterbukaan Data
Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi pelebaran defisit APBN.
Namun, dirinya menyampaikan bahwa Kedutaan Besar Rusia terbuka untuk mendiskusikan terkait pembelian minyak dari Rusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved