Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menegaskan, harga BBM di Tanah Air masih sangat bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sehingga diduga turut menjadi pertimbangan Pemerintah belum menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Harga BBM di Indonesia saat ini masih cukup kompetitif dengan harga jual BBM di sejumlah negara tetangga, seperti Filipina, Thailand, Kamboja, Laos, dan Singapura," katanya di Jakarta, Selasa (6/5).
Berdasarkan data globalpetrolprice.com, lanjutnya, untuk bensin gasoline 95 misalnya, Indonesia berada pada level Rp8.496/liter lebih murah dibandingkan Thailand, Rp10.944/liter, Laos Rp15.552/liter, Filipina Rp11,376/liter, atau Singapura Rp20.160/liter.
Sedangkan jenis solar untuk gasoil, Indonesia berada pada Rp9.072/liter, di bawah Laos Rp12.672/liter atau Singapura Rp16.560/liter.
Selain harga BBM yang masih kompetitif, Komaidi juga menduga bahwa kondisi sosial-ekonomi dunia dan domestik yang "tidak normal" terutama terkait pandemi Covid-19 juga menjadi basis pemerintah untuk belum menyesuaikan harga BBM.
Baca juga : Imbas Covid-19 Alokasi Elpiji 3 Kg di Klaten tidak Terserap
"Termasuk di antaranya, karena adanya penurunan tingkat konsumsi dan aktivitas masyarakat akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan anjuran di rumah saja," kata dia.
Sementara VP Corporate Communications Pertamina Fajriyah Usman menegaskan, dalam 'kondisi normal', Pertamina sudah dua kali menurunkan harga BBM pada tahun ini yakni pada awal tahun terhadap BBM JBU, Pertamax series dan Dex series.
Demikian juga tahun lalu, lanjutnya, tidak dilakukan kenaikan harga, namun justru penurunan harga. Sementara BBM jenis Biosolar dan Premium, sejak April 2016 tidak pernah mengalami kenaikan harga.
Sedangkan dalam kondisi ekonomi dunia 'tidak normal' karena pandem Covid-19, Pertamina juga tidak diam, tambahnya, namun terus memonitor dinamika harga minyak mentah, sekaligus mempertimbangkan prioritas penyediaan energi dalam negeri.
Termasuk di antaranya, mencermati perundingan negara OPEC dan non-OPEC awal April 2020. Dalam perundingan tersebut, OPEC sepakat untuk memotong produksi minyak dunia sebesar 9,7 juta barel per hari, pada Mei dan Juni 2020.
Meski dalam posisi mencermati, Fajriyah menegaskan, saat ini harga BBM di Indonesia masih kompetitif jika dibandingkan dengan BBM di ASEAN. "Bahkan untuk di SPBU di Indonesia, BBM Pertamina juga paling murah," jelasnya.
Pertimbangan lain yang harus dicermati, lanjutnya, adalah kurs Rupiah yang saat ini melemah dan konsumsi BBM yang jauh menurun.
"Di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, dan Medan, penurunan (konsumsi bbm) bahkan sangat tajam, lebih dari 50%," katanya.
Selain itu, Pertamina juga memberikan program cashback 30 persen khusus untuk pelanggan yang membeli BBM nonsubsidi Pertamax series dan Dex series dengan menggunakan aplikasi MyPertamina dan pembayaran dengan LinkAja. (Antara/OL-09)
Untuk itu Imron meminta Pertamina agar terus meningkatkan kinerja, melalui lifting yang terus meningkat diharapkan bisa mendukung upaya ketahanan energi nasional.
Di Provinsi Aceh, dari total 156 SPBU, sebanyak 151 SPBU atau sekitar 97% telah kembali beroperasi.
Anggapan bahwa mengisi bensin di siang hari mendapatkan volume lebih sedikit ketimbang di malam hari memang memiliki landasan ilmiah, namun dampaknya tidaklah signifikan.
Pada periode libur panjang dan musim perayaan, masyarakat cenderung beralih menggunakan BBM berkualitas demi menjaga performa kendaraan selama perjalanan jarak jauh.
Dari Stasiun Labuan di Kota Medan, setiap harinya dialirkan setidaknya 1.020 kilo liter BBM jenis Pertamax, Pertalite, dan Bio Solar menuju Siantar.
Pentingnya uji tera alat ukur BBM di SPBU sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan konsumen
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved