Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Pandemi Covid-19 Bikin Sengsara Industri Kecil Makanan

M Ilham Ramadhan Avisena
11/4/2020 15:15
Pandemi Covid-19 Bikin Sengsara Industri Kecil Makanan
Industri pembuatan makanan ringan Desa Karangturi, Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (12/2/2020).(Antara)

DIREKTUR Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menuturkan, industri kecil dan menengah sektor makanan sedang membutuhkan dukungan pasokan bahan baku.

Sebab, dampak pandemi covid-19 membawa pengaruh yang sangat besar bagi para pelaku usaha IKMA di Indonesia. "Data yang kami terima, pasokan bahan baku IKM makanan sulit didapat dan harganya saat ini terbilang meningkat," ujar Gati dari siaran pers yang diterima, Sabtu (11/4).

Baca juga: Politikus NasDem: Terbitkan Segera Perppu Penundaan Pilkada

Harga bahan baku yang melonjak itu di antaranya ialah harga kedelai dari Rp6.700 menjadi Rp8.500. Di Pulau Jawa, kedelai masih mudah untuk didapat akan tetapi lain cerita di Pulau Sulawesi.

Harga gula pasir juga naik yang semula Rp12.500 per kilogram menjadi Rp18.000 per kilogram. Bahkan di beberapa daerah harganya telah menyentuh Rp21.000 per kilogramnya.

"Ada pembatasan pembelian gula pasir maksimal 3 kg. Jika ingin membeli kemasan bulk besar, harus di distributor dan dalam jumlah yang besar sekali," ujar Gati.

Meroketnya harga juga terjadi pada bahan baku gula rafinasi yang semula Rp9.000 menjadi Rp11.000, kondisi yang sama juga terjadi pada harga buah-buahan yang meningkat sekitar 20% dan bahan baku susu segar naik dari Rp6.500 per liter menjadi sampai Rp8.500 per liter.

Pun demikian dengan harga jahe merah yang naik melebihi 100% atau semula Rp35.000 per kilogram menjadi Rp70.000 per kilogram.

Baca juga:Pemerintah Hapus PPN Barang dan Jasa Penanganan Covid-19

"Bahkan mencapai Rp130.000 per kg di Kota Palu. Untuk harga bawang putih juga tak luput dari kenaikan harga, yakni dari Rp35.000 per kg menjadi Rp55.000 per kg," ungkap Gati.

Gati menambahkan, berbarengan dengan naiknya sejumlah bahan baku itu, IKM makanan mengalami penurunan omzet hingga 50% hingga 90%. Pada akhirnya, pelaku IKM mengobral stok yang ada untuk menhindari penumpukkan di gudang dan tetap mendapatkan pemasukkan.

"Untuk pasar ekspor juga turut mengalami hambatan, karena diberlakukannya karantina atau lockdown. Misalnya ekspor bawang goreng Monita dari Kabupaten Kuningan ke Arab Saudi," imbuh Gati.

Meski begitu, IKM terus didorong menjalankan penjualan secara daring agar tetap mendapatkan pemasukan bagi perusahaan dan berharap akses pengiriman barang tetap dapat berjalan meskipun akan diberlakukan karantina wilayah.

Gati menuturkan dari kondisi itu IKM makanan mengharapkan sejumlah bantuan dari pemerintah seperti bantuan modal usaha, penundaan pembayaran kredit perbankan, stabilisasi harga bahan baku dan menjamin ketersediaan bahan baku utamanya gula pasir.

Baca juga:Di Tengah Covid-19, Bisnis Ini Justru Kebanjiran Pesanan

Selain itu, diharapkan bantuan dari pemerintah baik hibah maupun pinjaman, penundaan pembayaran iuran PDAM dan PLN, keringanan pembayaran BPJS karena karyawan dirumahkan, penundaan pembayaran pajak, hingga subsidi biaya pengiriman untuk penjualan online, terutama untuk Indonesia Bagian Timur yang mengalami kendala pada mahalnya biaya kirim.

Gati menambahkan, IKM melakukan penggiliran jam kerja, yang berarti akan terjadi pengurangan pendapatan pegawai karena upah dibayar secara harian. "Nampaknya kondisi ini berlaku di sebagian besar IKM makanan," pungkasnya. (Mir/A-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya